Panglukatan Agung Banyu Pangeweruh, Pertama Kali Digelar Pinandita Sanggraha Nusantara Korda Badung

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Daerah (Korda) Kabupaten Badung, Minggu (12/5/2019) menggelar Upacara Penglukatan Agung

Panglukatan Agung Banyu Pangeweruh, Pertama Kali Digelar Pinandita Sanggraha Nusantara Korda Badung
Pemkab Badung
Upacara penglukatan agung banyu pangeweruh di Tirta Taman Mumbul, Desa Sangeh, Minggu (12/5/2019) kemarin menggelar 

TRIBUN-BALI.COM - Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Daerah (Korda) Kabupaten Badung, Minggu (12/5/2019) menggelar Upacara Penglukatan Agung Banyu Pangeweruh di Tirta Taman Mumbul, Desa Sangeh.

Upacara ini dipuput lima Sulinggih dan diikuti ratusan masyarakat Hindu, terutamanya siswa SD.

Menurut Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara Korda Badung, Pinandita Dr. I Nyoman Sukendra, Upacara Penglukatan Agung Banyu Pangeweruh ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan PSN Kabupaten Badung.

Ada lima Sulinggih yang Muput upacara ini diantaranya; Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul, Ida Pandita Mpu Nabe Putra Swadiaya Parama Santika, Ida Pandita Mpu Wija Karma Niasa, Ida Pandita Mpu Agni Dharmajati Biru Daksa dan Sira Mpu Gede Jangga Dharma Putra.

Tema yang diangkat pada upacara kali ini yakni "Melalui Penglukatan Agung Banyu Pangeweruh Kita Ciptakan Bhuwana Santih Jagaddhitam". 

Baca: Ahli Geologi Ini Teliti Air Berusia 2 Miliar Tahun, Temuannya Sungguh Menakjubkan

Baca: Persib Bandung Rilis 31 Pemain, Ini Sosok Pemakai Nomor Punggung 7 Warisan Atep

Menurutnya, sudah menjadi tradisi di Bali ketika Hari Banyu Pinaruh, umat Hindu datang beramai-ramai ke pantai, pancoran maupun ke mata air suci.

Bila direnungkan sesungguhnya Banyu Pinaruh itu adalah "Banyu Pangeweruh" yaitu air ilmu pengetahuan berupa Tirta Sanjiwani yang tercipta dari hasil yoga para wiku.

"Dengan demikian, mandi ke laut dan pancoran suci perlu ditata, diorganisir pelaksanaannya agar sesuai dengan tatwa agama yang baik dan benar, sehingga terwujud tujuan agama yaitu atma kertih atau menjadikan diri suci sebagai pralingga atma," terangnya.

Dijelaskan, prosesi Penglukatan Agung Banyu Pangeweruh dilaksanakan bertepatan dengan matahari terbit, dilakukan pemujaan oleh para wiku.

Dilanjutkan penyucian diri guna melepaskan segala mala kahuripan agar segala debu kotoran yang menyelimuti jiwa terkikis habis sehingga kita akan semakin cemerlang dengan kecerdasan ilmu pengetahuan.

Baca: Momentum Bulan Ramadan Dapat Dimanfaatkan Untuk Berhenti Total Merokok, Ini Tipsnya

Baca: Raih Nilai UN IPA Tertinggi Se-Bali, Sharon Diterima di Perguruan Tinggi Feng Chia Uni di Taiwan

"Jika melakukan Penglukatan Agung Banyu Pangeweruh yang benar sesuai filosofi agama, maka tujuan beryadnya demi terciptanya kesucian, kedamaian, keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, kemakmuran sekala niskala, bhuana agung-bhuana alit dapat terwujud. Demikian proses pembangunan berlandaskan konsep Sad Kertih Loka Bali dengan harapan terwujudnya Bali Santi lan Jagaddhitam," imbuhnya.

Upacara tersebut juga dihadiri perwakilan dari Dinas Kebudayaan, PHDI, Camat Abiansemal beserta Tripika Kecamatan, Bendesa Adat Sangeh dan Perbekel Sangeh.

Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved