Bidan Harus Rajin Turun ke Masyarakat Memonitoring, Ini Pesan Bupati Jembrana

Artha berharap kepada CPNS baru ini untuk rutin turun, memonitor kondisi kesehatan di lingkungan kerja masing-masing.

Bidan Harus Rajin Turun ke Masyarakat Memonitoring, Ini Pesan Bupati Jembrana
Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismayana
Bupati Jembrana I Putu Artha menyerahkan SK CPNS kepada 6 Bidan PTT, di Ruang VIP Bupati, di Negara, Jembrana, Bali, Senin (13/5/2019). 

Bidan Harus Rajin Turun ke Masyarakat Memonitoring, Ini Pesan Bupati Jembrana

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Bupati Jembrana I Putu Artha menyerahkan Surat Keputusan (SK) Bupati Jembrana tentang pengangkatan calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kabupaten Jembrana dari program pegawai tidak tetap (PTT) Kementerian Kesehatan tahun anggaran 2019.

SK CPNS diserahkan kepada 6 bidan PTT, di Ruang VIP Bupati, di Negara, Jembrana, Bali, Senin (13/5/2019).

Turut hadir Kepala BKPSDM I Made Budiasa, Sekdis Kesehatan Dr Putu Suekantara.

Kepala BKPSDM Jembrana I Made Budiasa mengatakan, sesuai Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 2018, menjadi dasar PTT CPNS Kemenkes yang telah mengikuti seleksi pada 2016 dan berusia setinggi-tingginya 40 tahun dapat diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkungan pemerintah daerah.

“Keenam bidan tersebut rata-rata telah mengabdi selama 14 tahunan sebagai bidan PTT Kementerian Kesehatan selama ini mengabdi di desa. Mereka akan ditempatkan di masing-masing desa di Jembrana. Ini sekaligus menjadi kuota bidan PTT terakhir sebagai CPNS,” kata Budiasa.

Bupati Jembrana I Putu Artha usai penyerahan SK CPNS kepada 6 bidan tersebut mengatakan, ini merupakan penghargaan dari pemerintah pusat yang diberikan kepada para bidan yang selama ini telah mengabdikan diri sebagai pelayan masyarakat di bidang kesehatan.

“Saya harap setelah diserahkannya SK CPNS, para bidan bisa bekerja lebih baik, tanggap, makin peka akan kebutuhan masyarakat dalam pelayanan kesehatan," katanya.

Secara khusus, Artha juga berharap kepada CPNS baru ini untuk rutin turun, memonitor kondisi kesehatan di lingkungan kerja masing-masing.

“Bidan ini harus paham kondisi warga di bawah. Lakukan pendataan dengan baik agar tahu kebutuhan mereka. Utamanya bila ada warga miskin dengan sakit kronis menahun. Lakukan monitoring dan perhatikan keperluan mereka. Misalnya ada warga miskin perlu kursi roda, bisa dilaporkan ke dinas. Termasuk jangan segan-segan masing-masing Poskesdes untuk menjemput langsung memberikan penanganan dan rujukan,” ujar Artha.

Artha juga berharap para bidan aktif membagikan keahliannya.

Cara efektif yang dicontohkan Artha, bisa masuk melalui kegiatan pengajian atau pertemuan ibu-ibu di banjar, guna menyosialisasikan kesehatan ibu dan anak.

“Pendekatan preventif itu juga salah satu cara menurunkan angka kematian ibu dan anak,” kata Artha. (*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved