Setelah di Thailand, Rompi Anti Peluru Buatan Siswa SMAN 3 Denpasar Sabet Emas Lagi di Malaysia

Kali ini beberapa orang siswa asal Bali berhasil meraih medali emas di kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE).

Setelah di Thailand, Rompi Anti Peluru Buatan Siswa SMAN 3 Denpasar Sabet Emas Lagi di Malaysia
Dok pribadi/Tribun Bali
Para siswa SMA Negeri 3 Denpasar saat mengikuti kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE) serangkaian dari 30th International Invention, Innovation and Technology Exhibition 2019 (ITEX'19) yang berlangsung dari 2 hingga 4 Mei di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Prestasi siswa-siswi SMA Negeri 3 Denpasar semakin membanggakan.

Kali ini beberapa orang siswa asal Bali berhasil meraih medali emas di kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE).

Kegiatan itu serangkaian dari 30th International Invention, Innovation and Technology Exhibition 2019 (ITEX'19) yang berlangsung dari 2 hingga 4 Mei di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia.

Tinta emas kali ini kembali datang dari inovasi rompi anti peluru yang masih dalam bentuk prototype.

Rompi ini diciptakan oleh Kadek Dwika Wahyudinata, I Nyoman Aris Suardana, Ida Bagus Krtin Wittaka, Tjok Istri Sintawati, Gustu Rama Bhaskara Putra, Made Bagus Krishna Wiranatha dan Ni Luh Putu Anjany Putri Suryaningsih.

Baca: Raih Nilai UN IPA Tertinggi Se-Bali, Siswi SMA di Denpasar Ini Diterima di Perguruan Tinggi Taiwan

Menariknya, medali emas kali ini adalah yang kedua kalinya setelah dilombakan juga pada ajang Thailand Investors Day (TID) di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC) yang berlangsung dari 2 hingga 6 Februari 2019 lalu.

Salah satu anggota kelompok Tjok Istri Sintawati saat ditemui di sekolahnya, Jum'at (10/5/2019), menjelaskan latar belakang dari terciptanya rompi anti peluru tersebut.

Selama ini rompi anti peluru dibutuhkan dalam dunia kemiliteran di Indonesia, sementara bahan-bahannya masih mahal dan secara umum masih sulit untuk dicari.

Sehingga, kata dia, dibutuhkan bahan-bahan yang murah dan juga gampang untuk dicari.

"Jadi (penelitian ini) menggunakan daun bambu dan serat sisal (tanaman gebang). Karena mereka berdua itu gampang dicari," katanya saat ditemui bersama beberapa rekannya.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved