Cegah Penyebaran Virus ASF Pada Babi, Dinkeswan Bali Awasi Ketat Limbah Makanan Pesawat Asal China

Dinkeswan Bali mengambil langkah pencegahan terhadap penyebaran Virus African Swine Fever (ASF) atau virus flu babi asal Afrika

Cegah Penyebaran Virus ASF Pada Babi, Dinkeswan Bali Awasi Ketat Limbah Makanan Pesawat Asal China
Kompas.com
Ilustrasi pesawat(rebelcircus.com) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dinkeswan Bali mengambil langkah pencegahan terhadap  penyebaran Virus African Swine Fever (ASF) atau virus flu babi asal Afrika yang menghantui industri peternakan babi di Indonesia khususnya di Bali.

Dinkeswan Provinsi Bali melalui Kabid KKPP Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi Bali, Made Sukerni mengatakan virus ASF ini sudah menyebar di wilayah China.

Maka dari itu, pihaknya melakukan peningkatan kewaspadaan, mengingat Bali juga salah satu tempat wisata yang dikunjungi oleh berbagai mancanegara.

Yakni dengan berkoordinasi dengan pihak otoritas Bandara Ngurah Rai untuk melakukan pengecekan limbah makanan yang datang dari China.

Tambahnya, pihaknya telah mengelar rapat bersama lintas sektor. 

Meliputi dari Dinas Kesehatan, Dinas Kabupaten/Kota se Bali, BPBD Provinsi Bali, Tim Ahli, Dinas Pariwisata, Otoritas Bandara Ngurah Rai dan instansi-instansi terkait.

"Ada 11 instansi yang ikut rapat. Dalam rapat tersebut intinya memberikan tugas dan SOPnya. Jika virus ini terjadi di Bali, mereka akan melaksanakan perannya masing-masing. Dan juga Dinas Peternakan Badung harus berkoordinasi dengan pihak Bandara agar limbah-limbah pesawat yang dari China tidak keluar dan segera dilakukan proses pemusnahan," ujarnya saat ditemui Tribun Bali di Dinas Peternakan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, Senin (14/5/2019)

Mengingat tingginya tingkat konsumsi daging babi di Bali, Sukerni biasa disebut Monika mengatakan, perlunya kewaspadaan untuk para peternak babi agar selalu melakukan proses pemanasan terhadap limbah-limbah tersebut agar virusnya mati

"Peternak kita kan masih peternak rumahan, dan memberikan makanannya itu menggunakan produk-produk limbah dari restaurant maupun dari limbah Bandara. Jika lolos dari pemusnahan, diharapkan limbah-limbah tersebut dilakukan proses pemanasan dahulu agar virusnya mati," ujarnya

Monika memaparkan, data 2018 populasi babi di Bali mencapai 762.408. ia merincikan, Buleleng: 195.927, Karangasem: 142.758, Gianyar: 138.764, Tabanan: 94.348, Badung: 70.356, Bangli : 59.747, Kelungkung: 23.308, Jembrana: 22.826 dan Denpasar: 14.374

"Ini data tahun 2018. Untuk 2019 belum kita update. Jadi pentingnya kita antisipasi karena virus ini kan masih belum ada obatnya. Jika ada satu peternakan babi yang terjangkit, maka kami akan melakukan pemusnahan," tutupnya. (*) 

Penulis: Rino Gale
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved