Ingin Jadi Orangtua Angkat? Begini Prosedur Pengangkatan Anak oleh Dinas Sosial Provinsi Bali

Pasca ditemukan bayi laki-laki di pagar Yayasan Panti Asuhan Sidhi Astu pada Rabu (15/5/2019), sempat beredar kabar banyak orang yang ingin mengadopsi

Ingin Jadi Orangtua Angkat? Begini Prosedur Pengangkatan Anak oleh Dinas Sosial Provinsi Bali
Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
SEHAT -  Bayi laki-laki yang ditemukan Suster Clementia di pintu gerbang Panti Asuhan Sidhi Situ, Rabu (15/5/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -- Pasca ditemukan bayi laki-laki di pagar Yayasan Panti Asuhan Sidhi Astu pada Rabu (15/5/2019), sempat beredar kabar banyak orang yang ingin mengadopsi anak tersebut.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra mengatakan, pengangkatan anak hanya boleh dilakukan oleh orang yang telah berkeluarga.

Selanjutnya permohonan izin adopsi diajukan kepada dinas perizinan.

"Izin adopsi anak diurus ke dinas perizinan, sedangkan dinas sosial diminta rekomendasi teknis untuk penerbitan izin tersebut," kata Dewa Mahendra.

Baca: Bayi yang Ditemukan di Pagar Panti Asuhan Sidhi Astu Kini Dipindahkan ke Yayasan Sayangi Bali

Dewa Mahendra menjelaskan, keluarga yang melakukan izin adopsi anak, harus melakukan kunjungan ke lokasi panti asuhan untuk melakukan pendekatan dan kunjungan secara berkelanjutan kepada anak selama enam bulan.

"Untuk siapapun yang melakukan izin adopsi harus melakukan home visit. Kegiatan ini tidak bisa dilakukan sekali, tetapi berkali-kali, untuk berkenalan dengan anak, sehingga bisa merasakan kecocokan dengan anak yang akan diadopsi," jelas Dewa Mahendra.

Selain itu, dinas sosial juga turut melakukan penilaian terhadap keluarga yang akan mengadopsi anak, seperti keadaan kesehatan dan kondisi keluarga dalam keseharian.

Setelah melakukan pendekatan enam bulan dan keluarga mendapatkan anak yang dipilih, maka dilakukan pengurusan izin ke yayasan tempat anak tinggal.

Baca: Bayi Laki-laki yang Ditemukan di Pagar Panti Asuhan Sidhi Astu, Dipindahkan ke Yayasan Sayangi Bali

Selanjutnya setelah mendapat izin dari yayasan maka akan diagendakan untuk penyerahan bayi.

Setelah anak diserahkan, keluarga yang mengadopsi anak belum dikatakan sebagai orangtua angkat, tetapi calon orangtua angkat (COTA).

Selama menjadi COTA, dinas Sosial masih melakukan proses pemantauan selama enam bulan.

"Setelah anak diserahkan, kita masih tetap pantau selama enam bulan. Hal ini untuk memastikan keadaan anak baik-baik saja selama diasuh oleh COTA," ujar Dewa Mahendra.

Setelah pemantauan selama enam bulan, maka COTA dapat mengajukan penetapan anak di pengadilan negeri.

Proses penetapan anak, akan dikaji oleh tim pertimbangan izin pengangkatan anak (PIPA), yang terdiri dari Dinsos sosial, pengadilan, kepolisian dan pekerja sosial. (*) 

Penulis: Meika Pestaria Tumanggor
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved