Ngopi Santai

Sehat Tapi Palsu di Gilimanuk

Hari- hari ini nama Gilimanuk kembali menjulang. Sedikit geger mencabik langit setidaknya bagi sebagian penghuni Pulau Dewata.

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Stocktrek Images/Getty Images
Ilustrasi Virus Corona. 

GILIMANUK itu sebuah nama besar di Pulau Dewata.

Kesohorannya setara dengan Bandara Internasional Ngurah Rai. Bahkan jauh lebih tenar ketimbang Kuta, Sanur atau Ubud.

Kalau tuan masuk Bali pilihan favorit ya Gilimanuk atau Bandara Ngurah Rai. Selebihnya baru Pelabuhan Benoa dan Padang Bai.

Saban hari ribuan orang menginjakkan kakinya di Gilimanuk. Mereka datang dan pergi.

Bergerak ke Barat atau ke Timur, menuju Pulau Jawa atau sebaliknya.

Gilimanuk terkenal karena di sanalah letak pelabuhan kapal feri yang menghubungkan Bali dan Jawa, pulau dengan populasi tertambun di negeri ini.

Pelabuhan sibuk itu persisnya berada di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

Saban hari ratusan perjalanan kapal feri melayani penumpang dan kendaraan dari Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dan sebaliknya.

Kapal berlayar kira-kira satu jam melewati Selat Bali yang tenang mendayu dan sesekali mengamuk kala cuaca sedang murung.

Sibuknya Gilimanuk masih terjadi sampai hari ini kendati pemerintah telah mengekang sekuat-kuatnya agar orang tidak bepergian di saat pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Ditlantas Polda Bali, jumlah kendaraan yang keluar Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk bulan April-Mei 2020 sebanyak 45.659 unit dan jumlah orang yang keluar Bali pada periode itu sebanyak 91.284 orang.

Sebelum Corona menyerbu buana, mobilitas manusia dan barang jauh lebih banyak lagi. Berlipat ganda dari kondisi sekarang.

Pelabuhan Gilimanuk berada dalam pengelolaan manajemen ASDP Indonesia Ferry.

Saya pertama kali menapaki tempat luar biasa ini 32 tahun silam saat berkelana ke Jawa sejenak sebagai aktivis mahasiswa dari Timor yang mau menambah kawan dan pengalaman.

Hari- hari ini nama Gilimanuk kembali menjulang. Sedikit geger mencabik langit setidaknya bagi sebagian penghuni Pulau Dewata.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved