7 Pertanda Sekala Niskala Jika Gunung Agung akan Meletus, Nomor 7 Muncul Suara Misterius Ini

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Warga di lereng Gunung Agung tidak khawatir dengan kondisi gunung yang dinyatakan berstatus Waspada (Level II).

Mereka tetap beraktivitas seperti biasa.

Baca: Bertepatan Tilem, Umat Hindu Gelar Upacara Peneduh Jagat, Lewat Medsos Ajak Haturkan Pejati

Baca: Warga Merasa Aman di Pengungsian, Pagi Kembali ke Rumah, Malam Pilih Mengungsi

Baca: Perhatikan Pergerakan Pesawat Hingga Malam Ini, Tak Ada Pesawat di Sekitar Gunung Agung

Baca: SIAGA, 3 Pertanda Jika Gunung Agung akan Meletus Muncul, Warga Ramai-ramai Mengungsi

Baca: Ini Penjelasan Terkait Status Gunung Api, Jika Naik Status Ini Maka Warga Diimbau Mengungsi

Baca: Fakta Mengerikan Gunung Agung Dahulu

Baca: Kisah Mistis, Gunung Agung Meletus, Juru Kunci dan Lelaki Dewasa ‘Sambut’ Lahar Panas

Baca: Perut Gunung Agung Berguncang Paling Lama Hampir Satu Menit, 4 Hari Terakhir Berguncang 17 Kali

Baca: Catatan Erupsi Gunung Agung, Lahar Dingin Menerjang Klungkung Melalui Aliran Tukad Unda

Baca: Masyarakat di Seluruh Kecamatan di Karangasem Ngaturang Guru Piduka

Baca: Ini 13 Fakta Kondisi Gunung Agung Terkini, Nomor 8 Perlu Selalu Waspada!

Baca: Kawah Gunung Agung Sudah Keluarkan Gas Berbahaya, Jangan Lewati Radius Ini!

Kendati demikian, sejak penetapan status Waspada pada 14 September 2017, penduduk tidak lagi melakukan pendakian hingga radius 3 kilometer dari kawah gunung, yang ketinggiannya 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Baca: Cerita Masa Lalu Mangku Pastika Tentang Letusan Dahsyat Gunung Agung Hingga Keluarganya Keluar Bali

Baca: Penting! 12 Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Gunung Agung Kini, Perhatikan Nomor Terakhir

Minggu (17/9/2017), I Komang Pasek (50) selaku juru sapu Pura Pasar Agung Desa Sebudi di lereng Gunung Agung Kabupaten Karangasem menjelaskan, warga yang tinggal di lereng masih tenang meski sudah mendengar peningkatan status dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Belum ada tanda-tanda besar yang menyolok dari aktivitas Gunung Agung, sehingga harus ditakutkan.

Baca: Terakhir Meletus Tahun 1963, Kini Status Gunung Agung Waspada Sewaktu-waktu Bisa Berbahaya

Menurut Pasek, yang terjadi hingga kemarin hanya gempa-gempa kecil dalam berapa detik.

“Sejak seminggu lalu memang ada gempa, tapi kecil dan hanya beberapa detik. Dari hari Rabu (13/9/2017) sampai Sabtu (15/9/2017) terasa ada gempa enam kali. Tapi warga tidak resah atau khawatir,” jelas Pasek. 

Sementara itu, pangelingsir Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Jro Mangku Wayan Sukra mengungkapkan bahwa tanda-tanda sekala dan niskala biasanya muncul saat Gunung Agung hendak mengalami erupsi atau meletus.

Pangelingsir Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Jro Mangku Wayan Sukra, Minggu (17/9/2017) (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Ini 7 Pertanda Sekala Niskala Jika Gunung Agung akan Meletus:

1.     Pertanda sekala biasanya muncul sebulan hingga tiga bulan sebelum erupsi.

2.     Pertanda sekala seperti hewan-hewan yang tinggal di ketinggian Gunung Agung turun gunung.

3.     Hewan yang biasanya tinggal di Gunung Agung bahkan ke rumah-rumah penduduk.

4.     Hewan-hewan itu lebih peka merasakan suhu yang meningkat di bagian atas gunung, karena adanya peningkatan aktivitas vulkanik.

5.     Selain itu, biasanya juga terjadi hujan abu.

6.     Jika abu tersebut menempel di badan akan bisa menimbulkan gatal, dan mengalami lecet.

7.     Tanda niskala terdengar bunyi gamelan dan bleganjur sebleum erupsi.

Baca: Warga di Lereng Gunung Agung Mengungsi, 2 Pertanda Alam Disebut Mirib Tahun 1963 Muncul

Saat ini, tanda-tanda sekala dan niskala itu belum ada yang muncul.

”Kalau secara niskala biasanya terdengar bunyi gamelan dan bleganjur sebelum erupsi. Semoga tak terjadi,” harap Wayan Sukra, Minggu (17/9/2017).

Sedangkan pertanda sekala, imbuh dia, sebulan hingga tiga bulan sebelum erupsi biasanya hewan-hewan yang tinggal di ketinggian Gunung Agung turun ke bawah dan bahkan ke rumah-rumah warga.

Seorang warga yang tinggal di kaki Gunung Agung, Made Artaya. (Tribun Bali/Rizal Fanany)

 “Tanda-tanda sekala dan niskala itu menjelang erupsi itu sebagaimana yang dituturkan turun-temurun dari nenek moyang. Saat ini, tanda-tanda sekala dan niskala itu belum ada yang muncul. Oleh karena itu, warga saya harap tenang dan tidak resah. Media juga harus beritakan yang objektif biar warga tak resah,” ungkap Jro Mangku Wayan Sukra.

Pria yang juga menjabat sebagai Bendesa Sogra ini berjanji akan terus menggelar upacara untuk memohon keselamatan kepada Tuhan dan agar terhindar dari bencana.

Sejak 1963 (tatkala Gunung Agung meletus terakhir) hingga kini, menurut Wayan Sukra, pemangku di Pura Pasar Agung rutin ngaturan pekelem di kawah.

Sarananya berupa kambing dan bebek berwarna putih.

I Komang Pasek yang tinggal di ketinggian 1.200 mdpl Gunung Agung mengaku belum memiliki keinginan untuk mengungsi ke tempat lain.

Ia akan tetap tinggal di sekitar gunung jika belum ada gejala yang cukup mengkhawatirkan, bahkan walaupun seandainya status Gunung Agung naik ke status Siaga (Level III).

“Selama saya tinggal di sini sejak tahun 1993, belum ada tanda-tanda serius yang membahayakan dari aktivitas gunung. Siang malam ya tinggal dan tidur di sini,” kata Pasek yang asal Lingasna, Kecamatan Bebandem.

Mangku Dayuh, guide pendakian Gunung Agung dari jalur Pasar Agung juga mengutarakan hal sama.

Aktivitas warga seperti sembahyang dan cari kayu bakar di lereng gunung berjalan seperti biasa.

Warga dan wisatawan hanya dilarang mendaki mendekati kawah.

Petugas kepolisian terus berjaga sekitar Pasar Agung.

“Tadi ada bule Ceko mau mendaki. Kami bilang ke dia bahwa pendakian untuk sementara ditutup. Semoga pendakian bisa dibuka kembali,” harap Mangku Dayuh.

Secara terpisah, Ketua Pos Pemantauan Gunung Berapi Gunung Agung, Dewa Made Mertayasa menjelaskan, kondisi Gunung Agung relatif aman walaupun berstatus Waspada.

Memang ada peningkatan jumlah gempa vulkanik dan tektonik di dalam kawah.

Tapi peningkatan tersebut belum mengarah ke status Siaga (Level III).

Pada Minggu (17/9/2017) kemarin, jelas Dewa Made Mertayasa, gempa yang terjadi di kawah Gunung Agung sebanyak 52 kali.

Terdiri dari 50 gempa vulkanik dalam, 1 kali vulkanik dangkal, dan sekali gempa tektonik lokal.

Kekuatan amplitudo rata-rata 3-7 MM, sedangkan lama gempa sekitar 3-30  detik.

“Tapi kami berharap warga tetap waspada dan ikuti perkembangan informasi. Sebab, perubahan status bisa saja terjadi dengan cepat. Warga juga diimbau agar tidak naik ke Gunung Agung hingga radius tiga kilometer dari kawan,” jelas Dewa.

Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, IB Ketut Arimbawa meminta warga tetap berhati-hati.

Maksud dari status Waspada, kata Arimbawa, adalah mengingatkan masyarakat yang berada di lereng gunung untuk waspada karena ada peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Sedangkan jika sampai berstatus Siaga, warga diminta bersiap-siap untuk evakuasi.

Kendati demikian, Arimbawa meminta warga untuk tetap tenang.

Ia berjanji akan terus menginformasikankan kondisi gunung kepada masyarakat.

”Kita akan infokan terus. Sarana dan prasarana untuk mengantisipasi kemungkinan status gunung meningkat juga sudah disiapkan oleh BPBD,” kata Arimbawa.(*)