Belasan Tahun Simpan Rahasia, Paman yang Merawat Anak Gadis Ini Akhirnya Jujur Akui Hal Mengejutkan

TRIBUN-BALI.COM - Saat berusia sekitar 8 tahun, ayah tiba-tiba meninggal karena kecelakaan mobil.

Setelah ayah dikuburkan, tak sampai setengah tahun, ibu mengalami depresi dan akhirnya bunuh diri.

Baca: VIRAL, Video Bule Naik ke Puncak Gunung Agung yang Kondisinya Masih Kritis, Ini Imbauan BNPB

Perlahan-lahan semua orang yang dulunya dekat denganku mulai meninggalkan aku satu persatu.

Dilansir dari Erabaru, Aku merasa diriku seperti beban dan pembawa sial, tidak ada yang mau membesarkanku.

Masih hangat dalam ingatanku, ketika itu, kakek juga tak mau merawatku.

Sambil merokok kakek mengatakan bahwa dia sudah tua, tak sanggup merawatku lagi.Sementara tante atau bibi juga tidak mau merawatku.

Waktu itu, hanya paman yang bersedia merawatku. Ia menggandeng tanganku sambil berkata, “Mari ikut paman pulang.”

Sebenarnya, kondisi ekonomi keluarga paman juga tidak begitu baik.

Mereka mempunyai 2 orang anak laki-laki yang usianya lebih besar dariku. Sejak kecil hingga dewasa, aku sangat giat belajar. Mungkin karena aku tahu bukan anak kandung pamanku.

Saat aku lulus ketika itu, paman menyuruh anak sulungnya untuk putus sekolah karena nilainya tidak begitu bagus.

Paman menyuruh kakak untuk bekerja bersamanya, mencari uang untuk membiayai aku dan kakak laki-laki keduaku.

Tante atau isteri paman juga sangat baik padaku, aku dianggap seperti anak kandungnya.

Hanya saja, kondisi kesehatannya tidak begitu baik, ia sering sakit-sakitan.

Meskipun aku selalu kangen dengan kedua orangtuaku, namun terkadang aku merasa punya paman dan tante yang sangat menyayangiku itu juga sudah cukup.

Paman biasanya sangat keras terhadap kedua kakakku, dia selalu membentak dan memukuli mereka.

Namun, paman tidak pernah sekali pun memarahi aku dengan kata kasar, bahkan meski ia sedang tidak senang, paling-paling ia hanya diam membisu sambil menghisap rokok.

Setelah lulus kuliah, aku pun langsung mencari pekerjaan.

Awalnya aku ingin lanjut S2, namun aku tak ingin terus membebani mereka lagi.

Apalagi, sekarang kakak pertamaku sudah menikah, aku tak boleh sering-sering memakai uangnya lagi.

Kira-kira dua tahun lalu, aku pun mulai berpacaran. Pacarku orangnya baik, orangtuanya berprofesi sebagai guru.

Sangat bijak dan pengertian. Aku merasa sangat beruntung. Waktu dia melamarku, aku pun langsung mengiyakan.

Pada Maret lalu, aku membawanya menemui paman dan tanteku, dan mereka sangat mendukung hubunganku.

Tak lama kemudian, kami pun menggelar pesta pernikahan.
Masih terngiang di telingaku, satu hari menjelang pernikahan, tante memelukku sambil menangis.

“Saat kamu tinggal bersama keluarga suamimu nanti, ingat harus baik-baik terhadap kedua mertuamu. Jika kamu tidak bahagia, pulanglah. Di sini selamanya adalah rumah kamu,” kata tante sambil menangis.

Aku sangat terharu, dalam hatiku, tante sudah menggantikan posisi ibu.Aku sangat menyayanginya, karena, ia melanjutkan kasih sayang seorang ibu.

Saat hari pernikahanku, kami mengadakannya di sebuah hotel. Paman meraih tanganku dan diletakkan ke tangan suamiku sambil meneteskan air mata, tiba-tiba ia memelukku dan menangis terisak.

Untuk pertama kalinya aku melihat paman menangis, aku agak panik dan bingung seketika. Kemudian bibi naik ke atas dan segera membawa paman turun.

Saat malam tiba, paman tiba-tiba memanggilku. Ia mengatakan besok ia sudah akan pulang ke kampung, ia ingin ngobrol denganku sebentar.

Aku memintanya tinggal beberapa hari lagi, tapi dia mengatakan, “Sudah bertahun-tahun, paman menyimpan rahasia ini. Sebenarnya, ketika paman dan ayahmu dulu bisnis ikan bersama, ayahmu, mendapat bagian lebih banyak.

Semula paman hanya ingin memberi pelajaran pada ayahmu ketika itu, jadi paman mengendurkan rem motor ayahmu. Tapi paman tak menyangka, demi menyelamatkan paman, ayahmu menyuruhku meloncat dulu, sementara ia mempertahankan keseimbangan motornya.

Namun, karena rem blong, motornya menabrak truk di depannya. Paman bersalah kepadamu, juga pada ibumu, paman mohon maaf, paman adalah pembunuh, yang mengakibatkan kematian ayahmu.”

Mendengar pengakuan paman, aku pun tercengang, kenapa bisa begini, dan dia (paman) kenapa …?

Tidak pernah terlintas dalam benakku, kalau paman adalah penyebab kematian ayah. Saat itu, aku merasa dunia telah membohongiku.

Mengapa, mengapa bisa begini? Saat hari pernikahanku itu, aku pun menangis histeris, sayup-sayup terdengar suara dalam hatiku, aku ingin melaporkannya ke polisi, aku ingin menuntutnya, aku memutuskan menyeretnya ke penjara sebagaui akibat dari perbuatannya.

Meski dia telah membesarkanku selama 15 tahun, lalu kenapa?

Dialah yang menyebabkan kematian ayah dan ibu, adalah dia yang membuatku kehilangan keluarga, dan dia jugalah yang membuatku hidupku tersiksa dan menderita seorang diri seumur hidup.

Tiga hari setelah pernikahan, aku pulang ke kampung dan bertengkar hebat dengan paman.

Aku bilang pada paman, bahwa aku tak akan pernah memaafkannya dan akan menuntutnya.

Saat tante mengetahui hal ini, ia terus memarahi paman, dia menangis sampai hampir pingsan.

Sementara kedua kakakku mengatakan aku tak berperasaan.

Hingga sekarang, aku belum melaporkan pamanku, karena aku khawatir tante tak kuat menahan pukulan ini.

Tapi, aku tidak bisa memaafkan paman, aku juga tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan?

Jika aku tak melaporkannya, aku akan merasa bersalah terhadap ayah dan ibuku.

Aku sangat dilema, dan hatiku sangat sakit, belakangan ini suasana hatiku benar-benar buruk, kerap tidak bisa tidur.(*)