Celuk Jewellery Festival Targetkan Transaksi Rp 200 Juta per Hari

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Penyelenggaraan Celuk Jewellery Festival 2017 kali kedua ini, mengusung tema ‘Mahakarya Mustika Nusantara’, dengan mengangkat karya-karya terbaik dari seniman dan pengrajin perhiasan Indonesia.

Pelaksanaan event yang diselenggarakan pada tanggal 13 Oktober 2017 sampai 15 Oktober 2017, bertempat di area Wantilan Pura Dalem Celuk, Jalan Setra Celuk, Br. Celuk, Desa Celuk, Sukawati.

Panitia tahun ini menargetkan setidaknya ada 2.000 pengunjung yang hadir. 

Membawa misi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Celuk, dan masyarakat Bali pada umumnya, Celuk Jewellery Festival 2017 diharapkan dapat menjadi ajang promosi dan penjualan hasil karya dan kretifitas masyarakat Desa Celuk baik dalam bentuk seni kerajinan perak, produk kuliner, produk fashion, dan lainnya.

Adapun organisasi masyarakat di Desa Celuk yang mendukung dan berperan serta di dalamnya antara lain, Krama Banjar Celuk, STT. Yowana Jaya Celuk, Celuk Design Centre, CWCC dan juga organisasi Sport Celuk.

Selain itu, Iini juga diharapkan dapat mempersatukan masyarakat Desa Celuk agar secara bersama-sama melakukan langkah dalam rangka melestarikan seni kerajinan perak dan emas. 

“Event ini dikemas dalam beberapa rangkaian acara, di antaranya jewellery expo (pameran perhiasan), Pameran aneka produk, Lomba, seminar, workshop, pagelaran seni budaya, jewellery making class, dan bazar kuliner, Fashion Show, Live music, river hash run dan masih banyak kegiatan lainnya,” kata Ketut Widi Putra, Ketua Panitia Celuk Jewelry Festival, di Celuk, Jumat (6/10/2017). 

Festival kali ini akan diikuti 24 UKM perhiasan, 24 warung kuliner, dan 20 peserta pameran aneka produk.

Selain itu, juga akan diselenggarakan seminar kewirausahaan dengan pembicara Panudiana Khun (ketua Apindo Bali), dan Dr. Windu Segara Senet (founder mangsi coffe), seminar desa wisata dengan pembicara Jero Mangku Kandya (praktisi pariwisata), Cokorda Gde Putra Tsukawati (penglingsir puri ubud), A.A Rai Arma (founder museum ARMA), dan Gst. Ngurah Wisnu Wardhana (yayasan Tri Hita Karana).

“Seminar strategi pemasaran online untuk UKM dengan pembicara Rieke Diah Pitaloka (Anggota DPR RI), seminar pembuatan website yang didukung oleh relawan TIK Bali. Event ini juga menampilkan Jewellery Fashion Show dengan wardrobe dari Tjok Abi dan Shinta Chrisna Boutique dan dikolaborasikan dengan koleksi aksesoris dari para pengerajin perhiasan perak di Celuk,” jelasnya.

Selain itu juga akan diadakan beberapa workshop pembuatan perhiasan tradisional Celuk, workshop desain perhiasan, workshop 3D Desain, workshop photography perhiasan.

“Pengunjung juga dapat menikmati aneka makanan dan minuman tradisional yang menggugah selera dalam bazar kuliner yang akan bertempat di sekitar lokasi pameran perhiasan. Untuk memeriahkan acara juga diadakan berbagai lomba seperti lomba penjor dan menghias janur, lomba desain produk perhiasan, lomba karaoke lagu pop bali, lomba menteng, lomba mewarnai, lomba jewelry photography, lomba menggambar, lomba pasang jawan, lomba membuat bun, dan lomba berbusana adat ke pura, dan sebagainya,” imbuhnya.

Selain lomba, Celuk Jewellery Festival juga akan dimeriahkan pagelaran tabuh dan tari dari Sanggar S’mara Murti dan juga pagelaran Bapang Barong dan Jauk persembahan dari STT Yowana Jaya Celuk.

Beberapa artis bali juga akan ikut meramaikan diantaranya Deva & Band, Rasta flute band, B2AB2A Band, Celekontong Mas dan Rai Peny.

“Jadi akan ada banyak hal hal yang menarik yang ada di Celuk Jewellery Festival 2017 kali ini,” imbuhnya.

Target kunjungan domestik dan asing kali ini 2.000 orang per hari.

Angka ini naik dari tahun lalu hanya 1.000 orang per hari.

“Kami optimistis karena dukungan patner, SMS blast, dan medsos,” katanya.

Sementara transaksi targetnya Rp 200 juta per hari. Angka ini naik 100 persen, karena dulu sekitar Rp 100-Rp 120 juta per hari.

“Harapan kami bisa lebih, sehingga perhiasan di Celuk kembali menguasai pasar,” tegasnya.

Tahun lalu, kata dia, penjualan perak mencapai 90 persen dari seluruh penjualan.

Diikuti perhiasan lainnya seperti emas, berlian, dan lain-lain.

Sementara itu, Bupati Gianyar, AA Gde Agung Beratha, berharap festival ini menjadi contoh bagi wilayah lainnya.

“Kayak lukisan di Batuan kan khas Bali, saya akan mengimbau agar bisa dilakukan sama festival seperti ini,” katanya.

Pihaknya sebagai Pemerintah Gianyar pun ikut memberikan bantuan material dan moral. (*)