‎Gandrung Sewu Angkat Tema Perjuangan Blambangan

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - ‎Setelah mengangkat tema Seblang Lukinto di tahun sebelumnya, aksi teatrikal kolosal Gandrung Sewu, yang digelar di Pantai Boom, Minggu (8/10), mengangkat tema Kembang Pepe.

Kembang Pepe merupakan kelanjutan dari Seblang Lukinto. Tema ini diangkat dari karya yang diciptakan sekitar tahun 1775-1776.

"Tema ini merpakan kelanjutan dari gending 'Seblang Lukinto'. Tiap tahun kami mengangkat tema yang berbeda-beda," kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Muhammad Yanuarto Bramuda, Jumat (6/10/2017).

Kembang Pepe menceritakan perjuangan pasukan Kerajaan Blambangan melawan Belanda.

Menurut Bramuda dalam gending Kembang Pepe, terdapat kode-kode tersembunyi strategi mengalahkan Belanda.

"Perjuangan pasukan Blambangan itu yang kami angkat tahun ini," kata Bramuda.

Atraksi budaya kolosal Gandrung Sewu ini diikuti 1.286 penari gandrung.

Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.‎

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, sejak digelar 2012 lalu, Festival Gandrung Sewu telah menjadi sarana bagi tumbuhnya rasa bangga rakyat terhdap seni-budayanya.

Wisatawan pun merespons positif. Terbukti, ajang ini tiap tahunnya selalu disaksikan ribuan wisatawan.

”Festival terbukti menjadi instrumen ampuh untuk memperkenalkan seni-budaya daerah ke publik global. Sekaligus ini menjadi bagian dari regenerasi pelaku seni. Kami bangga, sekarang semakin mudah mencari anak Banyuwangi yang jago menari, bahkan latihan-latihan digelar di balai desa untuk anak-anak siswa Taman Kanak-Kanak,” ujar Anas.

Sehingga festival seni-budaya seperti Festival Gandrung Sewu bukan semata pertunjukan dan atraksi wisata saja, namun menjadi ajang konsolidasi budaya.

”Dulu di tahun pertama, untuk mencari pelaku seninya atau penarinya sempat kebingungan. Tapi sekarang minat anak-anak muda membeludak. Ini menunjukkan betapa bangganya rakyat terhadap seni-budayanya," kata Anas.

Festival Gandrung Sewu, sambung Anas, menyajikan atraksi yang sangat menarik.

Lebih dari seribu penari dengan busana berwarna merah menyala akan kompak menampilkan koreografi tematik di bibir pantai dengan latar belakang Selat Bali.

”Dan mereka tidak sekadar menari, tapi ada balutan koreografi bertema tertentu yang tiap tahunnya berganti, sehingga terus mendorong para pelaku seni untuk meningkatkan kreativitas konten tema dan koreografinya,” papar Anas. (haorrahman)