Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kubisnya Berwarna Ungu, Hasil Pertanian Unik di Buyan Lake Festival

Buyan Lake Festival secara resmi dibuka oleh Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana

Editor: Iman Suryanto

Laporan Wartawan Tribun Bali, Lugas Wicaksono

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Buyan Lake Festival secara resmi dibuka oleh Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, Jumat (20/6) di Danau Buyan. Festival ini akan berlangsung hingga Minggu(22/6).

Pada even bergensi tersebut, beragam jenis hasil pertanian yang ada di dataran tinggi dipamerkan pada festival ini. Seperti kentang, wortel, kubis, strawberry, labu dan beragam jenis sayuran lain. Beberapa terlihat berbeda karena tidak pernah ditemui di daerah lain.

Satu diantaranya, kubis ungu. Bentuknya tidak berbeda dari kubis pada umumnya yang berwarna putih kehijauan, hanya warnanya saja yang ungu.

Ketua Gapoktan Mitra Pradja Werdhi Murti, Made Sukirna mengatakan, kubis ungu ini hanya dapat tumbuh di dataran tinggi yang berhawa sejuk.

Menurutnya, tidak hanya permukaan luarnya saja yang berwarna ungu, tetapi bagian dalamnya juga berwarna ungu. "Kalau dibelah hingga bagian dalamnya juga berwarna ungu," kata Sukirman.

Sebagian petani sayuran di desa Pancasari, Buleleng membudidayakan kubis ungu ini. Mereka tidak ingin sayuran yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi ini punah karena tidak ada yang membudidayakan. "Sekitar 50 persen petani sayuran di sini membudidayakan kubis ini, karena unik juga," ucapnya.

Dari sisi perawatan, kubis ungu lebih ribet dan proses panennya lebih lama dari kubis biasa. Jika kubis biasa, usia tiga bulan sudah bisa dipanen, kubis ungu harus menunggu hingga empat bulan untuk menikmati hasilnya. "Perwatannya dikasih pupuk organik dan sedikit pupuk urea. Pertumbuhannya juga lebih lambat dari kubis biasa," jelasnya.

Sukirna mengaku, sebenarnya rasa dari kubis ungu ini tidak lebih enak dari kubis pada umumnya. "Rasanya agak pahit. Kalau lidah saya lebih suka kubis yang biasa karena sudah terbiasa," ucapnya.

"Biasa dimasak buat sayur seperti cap cay juga. Kalau dimasak warna ungunya juga mencemari airnya berwarna ungu juga. Kalau yang biasa kan putih jadi warnanya gak kelihatan di air," tambahnya.

Para petani biasa memasarkan hasil pertaniannya termasuk kubis ungu di pasar tradisional yang ada di Buleleng dan di hotel-hotel.

Selain kubis, tumbuhan dataran tinggi lain yang juga berwarna ungu adalah bunga pecah seribu. Bunga ini, hanya bisa tumbuh di dataran tinggi dan berbeda dari bunga pecah seribu dataran rendah yang berwarna putih. Itulah alasan Sukirna dan petani lain memilih tidak menjual bunga ini. Mereka lebih memilih mengoleksi sendiri dan memandangnya diwaktu senggang sambil membayangkan yang indah-indah.

"Kalau bunga ini hanya beberapa petani saja yang merawatnya. Bunga ini tidak untuk dijual karena percuma juga dijual kalau tidak bisa tumbuh di tempat lain," katanya.

Sama dengan kubis ungu, perawatan bunga pecah seribu ungu ini lebih rumit dan pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan bunga pecah seribu putih. Meski begitu Sukirna dan petani lain merasa bangga hidup di dataran tinggi karena sebagian sayuran memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain.

Buyan Lake Festival yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata Danau Buyan dan hasil pertanian dataran tinggi yang dihasilkan petani yang tinggal di desa sekitar Danau Buyan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved