Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Krama Desa Pakraman Buahan Payangan Laksanakan Ritual Nyelung

Upacara ini merupakan wujud syukur krama Desa Buahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas berkah kemakmuran yang dilimpahkan-Nya.

Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Iman Suryanto
Krama Desa Pakraman Buahan Payangan Laksanakan Ritual Nyelung - 1507_ANCHOR_NYELUNG_2.JPG
Tribun Bali/ I Putu Darmendra
Suasana ritual Nyelung di Desa Pakraman Buahan Payangan
Krama Desa Pakraman Buahan Payangan Laksanakan Ritual Nyelung - 1507_ANCHOR_NYELUNG.JPG
Tribun Bali/ I Putu Darmendra
Suasana ritual Nyelung di Desa Pakraman Buahan Payangan
Krama Desa Pakraman Buahan Payangan Laksanakan Ritual Nyelung - 20140715_061453.JPG
Tribun Bali/ I Putu Darmendra
Suasana ritual Nyelung di Desa Pakraman Buahan Payangan

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Darmendra

Ribuan warga Desa Pakraman Buahan Payangan melaksanakan prosesi ritual Nyelung, Selasa (15/7). Upacara besar ini dilaksanakan sekali dalam sepuluh tahun.

Upacara ini merupakan wujud syukur krama Desa Buahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas berkah kemakmuran yang dilimpahkan-Nya.

"Nyelung secara harfiah berasal dari kata Nyak Luwung (mau bagus, baik, positif). Jadi asas ukurnya adalah warga diberikan kebaikan dan kemakmuran dari segi sandang, pangan dan papan," ujar seorang pengelingsir Desa Buahan, Jero Mangku Wayan Mahardika.

Upacara Nyelung dilaksanakan warga setiap sepuluh tahun sekali. Krama Desa Buahan merepresentasikan rasa terima kasihnya dengan membuat kotak berukuran sekitar 2×2 meter. Kotak tersebut dihias sedemikian indah dengan tempelan kertas yang diukir.

Di setiap sudutnya dihiasi pajeng (payung Bali yang lazim dipasang di pura) berwarna putih-kuning. Dalam kotak tersebut diletakkanlah pelbagai jenis hasil bumi.

Dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer yang dimulai di Desa Buahan Kelod, ribuan krama membawa arak-arakan hasil bumi menuju Pura Pucak Pausan yang berlokasi di Desa Buahan Kaja.

Kendati berjalan kaki hampir lima jam lamanya, krama Desa Buahan tetap terlihat bersemangat. Iringan gambelan Baleganjur dan sorak sorai warga menjadi energi cadangan. Cuaca dingin dan terik matahari bak berkolaborasi mencoba menggoda semangat mereka.

"Dahulu kala pada suatu masa masyarakat di sini menderita paceklik, kekeringan dan wabah penyakit. Apa yang ditanam dimakan hama, semua petani gagal panen. Krama Subak kemudian nunas tirta di Pura Pucak Pausan di Desa Buahan Kaja untuk menghentikan epidemi ini. Manjur, setelah dipercikan tirta, semua berangsur membaik. Padi yang ditanam bisa dipanen, masyarakatpun sehat dan bahagia," jelasnya bercerita.

Setelah tiba di Pura Pucak Pausan, krama Desa kemudian melaksanakan ritual Mekideh yang dilakukan dengan tiga kali mengelilingi Pura. Setelahnya, semua sesaji yang diarak warga dihaturkan di Jeruan Pura Pucak Pausan.

"Istilahnya dikeleb (dihaturkan secara tulus iklas) dan tidak dibawa pulang lagi. Tujuan ritual ini adalah Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma yang berarti agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin," jelasnya.

"Di sisi lain, kita dikumpulkan bersama. Menjalin silaturahmi, mengingat kelimpahan rezeki. Bersama berjalan kaki jauh untuk menghaturkannya kepada Sang Hyang Widhi," sambungnya.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved