Art and Culture
Mendalang Menjadi Bagian Hidup Pande Made Rahajeng
Saat itu ayah terlalu sibuk membantu upacara keagamaan, sehingga juga tidak sempat
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Agung Yulianto
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani
MENDALANG sudah menjadi bagian dari kehidupan Pande Made Rahajeng, dalang asal Banjar Pujung Kaja, Desa Sebatu, Gianyar. Sudah hampir 30 tahun, pria berusia 38 tahun ini menyelami dunia pedalangan.
Dia memulai belajar memainkan wayang yang dibuatnya sendiri menggunakan daun nangka. Apapun aktifitasnya, tidak pernah terlepas dari wayang karena sudah menganggap itulah jalannya.
Ketertarikan Pande bermula sejak ia selalu diajak ayahnya datang ke ritual-ritual keagamaan. "Ayah saya adalah pemangku, rohaniawan, sekaligus sastrawan," katanya kepada Tribun Bali, Kamis (31/7/2014).
Ketika Pande berusia sekitar empat tahun, kakaknya telah merantau ke Denpasar untuk belajar, sehingga hanya dia yang selalu menemani orangtuanya.
Ia mulai menyerap cerita-cerita pewayangan dan petuah-petuah yang disampaikan para orang suci. Bahkan saking sukanya menyaksikan pertunjukan wayang, dia tanpa ragu-ragu pergi sendiri tanpa ditemani orangtuanya.
"Saat itu ayah terlalu sibuk membantu upacara keagamaan, sehingga juga tidak sempat atau tidak menyadari minat saya," ujarnya.
Pande pun tak tanggung-tanggung berjalan kaki selama berjam-jam menyusuri dua desa, hanya untuk menyaksikan wayang. "Pernah sampai juga ke Taro. Waktu itu kan jalannya masih terjan, naik turun. Belum seperti sekarang," kenangnya.
Keinginannya yang begitu besar untuk memainkan wayang, seringkali dia tumpahkan menggunakan wayang daun atau wayang kertas. Pande tidak bisa lagi membendung semangatnya.
Daun nangkapun dia kumpulkan, lalu mengguntingnya menyerupai karakter-karakter dalam wayang. "Kadang pakai kertas biasa juga. Pegangannya, saya pakai lidi biasa," katanya.
Meskipun tidak mendapatkan perhatian khusus dari orangtuanya, Pande berjuang sendiri dan mandiri mengasah bakatnya. Guna mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, ia pun melanjutkan studi di Kokar dan ISI.
"Saat itu, ayah tidak tahu saya ambil Kokar, dikiranya lanjut di SMA. Di Kokar saya termasuk sangat bagus dalam pedalangan, karena memang dari kecil sudah menekuninya," ujar Pande. (sud)