Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Smart Women

Kadek Ridoi Rahayu Ajak Perjuangkan Hak Anak

Bali, sebagai destinasi pariwisata juga harus memiliki perhatian lebih terhadap kasus Phedofilia

Tayang:
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Agung Yulianto

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani

TIDAK hanya aktif menimba ilmu, tapi Kadek Ridoi Rahayu juga sukses berkreasi melalui berbagai kegiatan organisasi yang diikutinya.
Dengan bekal keyakinan Berbagi Mengisi Diri, perempuan yang akrab disapa Doi ini selalu mencoba merangkul berbagai kalangan untuk bersama-sama terlibat dalam kegiatan yang positif dan kreatif.

"Sesungguhnya saat kita tulus berbagi, kita juga mengisi diri melalui feedback yang kita terima," ujar Alumnus Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana peminatan Promosi Kesehatan ini kepada Tribun Bali di kawasan Hayam Wuruk, Denpasar, Kamis (7/8/2014).

Dalam waktu dekat ini, dia akan bertolak ke New Jersey, Amerika Serikat, untuk melanjutkan studi Health Community Education, Master of Public Health, selama hampir dua tahun lamanya.

Doi berhasil terpilih sebagai satu dari 31 penerima beasiswa Prestasi United States Agency for International Development (USAID).

Keberhasilannya sebagai penerima beasiswa yang dikenal sulit ditembus itu tentu bukanlah keberuntungan belaka. Menurutnya, semuanya merupakan akumulasi dari apa yang telah ia geluti beberapa tahun terakhir.

“Saat mendaftarkan diri di beasiswa ini, saya juga mendapat rekomendasi dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali. Jadi studi S2 nanti, tentu akan menjadi faktor dalam menunjang passion,” ujar Doi.

Meskipun apa yang ia lakukan selama ini bidangnya beragam, dari pidato berbahasa Bali, menjadi master of ceremony (MC), presenter, penulis, dan kesehatan masyarakat, namun Doi mengakui ia memiliki passion yang besar di dunia anak.

Pada 2005, Doi terpilih mewakili Bali dalam Kongres Anak Indonesia di Jakarta dan diberi mandat sebagai Duta Anak Nasional pada kesempatan yang sama.

Terinspirasi dari anak-anak yang juga hadir saat kongres itu, sekembalinya ke Bali, Doi bersama lima kawannya kemudian mendirikan Forum Anak Daerah yang berada di bawah LPA Bali.

“Bali, sebagai destinasi pariwisata juga harus memiliki perhatian lebih terhadap kasus Phedofilia, khususnya di daerah-daerah marginal misalnya Munti Gunung," kata Doi yang sempat bekerja sebagai operator dan konselor di Telepon Sahabat Anak (TESA), Bali.

Sebenarnya, Doi menekankan tidak hanya mengenai kekerasan seksualitas saja, tetapi juga lebih kepada upaya pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak, dalam bentuk apapun itu.

Apalagi terhadap anak-anak di daerah yang kekurangan akses terhadap sumber informasi, perlu menjadi prioritas.

Atas dedikasi, konsistensi, dan kerja keras yang dilakukannya bersama kawan-kawan dan dibantu oleh LPA, Doi mendapatkan penghargaan dari United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan.

Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, Doi satu-satunya putri Bali yang memperoleh tanda kehormatan sebagai Pemimpin Muda Indonesia.

Namun, dia menekankan, penghargaan itu tidak hanya ditujukan untuk dirinya, melainkan untuk kebangkitan generasi penerus di Bali dalam memperjuangkan hak-hak anak.

Doi banyak terlibat dalam berbagai isu-isu sosial, terutama yang berkaitan dengan anak-anak. Di tengah berbagai kesibukannya, ia juga meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak pekerja di Pasar Badung.

“Saat menjadi mahasiswa saya bersama beberapa teman kuliah setiap dua kali sepekan menjadi pengajar di sana. Sebagian besar anak yang ada di sana bekerja sebagai tukang suun, terkadang saya berkolaborasi dengan beberapa organisasi remaja membuat kegiatan kreatif di sana seperti sesi kesehatan reproduksi dan kelas musik, terangnya.

Lahir dan tumbuh di Bali menyadarkan dirinya tentang kenyataan bahwa masih ada pekerja anak di Bali, misalnya sebagai pedagang cenderamata di beberapa destinasi pariwisata.

Doi semakin berpikir bagaimana caranya anak-anak itu agar mengetahui dan mendapatkan hak-hak mereka dengan baik.

“Akhirnya setelah beranjak remaja, pertanyaan-pertanyaan saya itu terjawab dan saya bisa melakukan sesuatu untuk mereka, tidak hanya sendiri tetapi juga mengajak orang lain yang mau peduli,” kata Doi yang mengaku masa kecilnya adalah saat-saat yang sangat penting dalam pembentukan karakternya. (sud)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved