Griya Style
Rumah Inspirasi Sekaligus Ruang Berkarya
Kediaman pengusaha muda, Bagus Galih Hastosa (23)
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebuah rumah bagi pengusaha muda, Bagus Galih Hastosa (23), merupakan sumber inspirasi dan tempat ternyaman untuk berkarya.
Di kediamannya, di Jalan By Pass Ida Bagus Mantra, Gianyar, arsitektur bangunan begitu kental dengan nuansa Bali. Galih membuat berbagai desain untuk usaha aksesorisnya.
"Rumah adalah tempat menggali ide, di sini juga saya mengeksekusinya," kata Galih, Sabtu (9/8). Saat ditemui Tribun Bali, Galih menceritakan betapa setiap bangunan berikut tatanannya, memiliki konsep yang tentunya sangat dipengaruhi selera penghuninya.
Sang ayah yang begitu senang dan kagum pada burung merak, menginspirasi Galih untuk membuat di semua pintu dari gerbang utama, hingga ruang pribadi dipasang ukiran dan patung burung merak.
Baginya, burung merak merupakan perlambang keagungan, keindahan dan juga elegan. Gerbang utama setinggi sekitar tiga meter, pada bagian atasnya, terbuat dari batu berwarna krem, terdapat burung merak, begitu juga dengan dekorasi di bagian pinggirannya.
Namun, untuk menghindari desain yang terlalu mencolok, pintu gerbang dibuat polos. "Karena pinggirannya sudah banyak ukiran, jadi pintunya sengaja dibiarkan kosong seperti itu, agar tetap tampak elegan," jelasnya.
Sementara, pada sisi kanan dan kiri, terdapat dua patung yang meniup seruling. "Patung ini dianggap sebagai penjaga rumah," kata Galih.
Memasuki halaman pertama, terdapat garasi di sebelah kanannya. Pohon anggur yang menjalar di sepanjang rangka besi, meneduhkan garasi.
"Kadang ada banyak juga buah anggurnya. Nah, di bagian atas garasi, dipakai untuk rumah panggung," jelas Galih.
Rumah panggung yang terbuat dari kayu, bertirai panjang warna krem, juga dihiasi dengan sejumlah lukisan.
Di bagian barat halaman pertama, tampak sebuah kebun serta dua balai kecil untuk tempat bercengkrama.
"Ayah dan ibu kan suka berkebun. Jadi mereka juga yang menentukan bentuk dan desainnya," imbuh Galih.
Sang ayah sering bercakap-cakap dengan kawannya di balai kayu di tengah kebun itu. Menurut Galih, selain memang sejuk, suasananya juga lebih hangat.
Sementara, di balai lainnya, dijadikan tempat untuk berkarya. "Ayah senang menggambar di sana," lanjut Galih. (*)