Melihat Dari Dekat Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Pemprov Bali
Ribuan lontar terlihat tertata rapi di lantai 3 kantor itu.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Iman Suryanto
Ruangan lontar di Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Pemprov Bali di Renon selalu sepi. Tak banyak orang yang mau mengakses naskah-naskah kuno itu.
Ribuan lontar terlihat tertata rapi di lantai 3 kantor itu. Sejak pagi, Pusdok dibuka pukul 07.30-15.00 Wita, pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari.
Staf Bidang Dokumentasi Kebudayaan di Perpustakaan Lontar, I Gusti Ngurah Wiriawan mengatakan hal itu kepada Tribun Bali, Kamis (11/9). Menurutnya, minimnya minat masyakarat mengunjungi ruang lontar, karena tidak banyak yang bisa dan paham dengan aksara atau bahasa Bali.
“Mungkin kendalanya membaca aksara dalam lontar. Sulit dipahami, sehingga mereka tidak berkeinginan masuk ke ruang lontar,” ujar pria asal Carangsari, Badung ini.
Selain itu, kata dia, kebanyakan yang datang mengunjungi ruangan beraroma aroma cendana ini, adalah kalangan pelajar dan peneliti.
“Paling peneliti yang membutuhkan data baru ke sini, atau pelajar dan mahasiswa yang ada tugas. Sisanya, kebanyakan lebih menyukai membaca alih aksara (terjemahannya) di ruang baca sebelah,” ujarnya sambil mengetik beberapa dokumen. Sebab, kata dia, lontar dituliskan dalam bahasa Bali, Kawi dan sedikit campuran Sansekerta.
Menurut pria berusia 25 tahun ini, ada 3.000 lontar yang tersimpan rapi di ruangan tersebut. Lanjutnya, lontar ini terbagi atas lontar Geguritan, Kanda, Kidung, Tutur, Kekawin, Babad, Wariga, Niti Sastra, Tantri, Kalpa Sastra, Usada, Mantra astawa, Satua, Pala Kerta, Parwa dan Tutur.
“Lontar di sini hanya bisa dibaca di tempat, tidak bisa dipinjam atau dibawa pulang,” ujarnya.
Baginya ini merupakan indikasi modernisasi yang mengurangi minat masyarakat terhadap local genius seperti lontar. Padahal menurutnya, lontar sangat penting dibaca, sebab banyak kandungan penting yang termuat di dalamnya.
“Banyak aspek kehidupan dalam lontar, mulai dari sejarah dan data penting lainnya. Bahkan, sejak sebelum kita lahir, saat pertama kita dibuat sampai akhir hayat manusia, ada semua di lontar,” katanya.
Lanjut pria yang berdomisili di Kesiman, Denpasar ini, lontar yang paling sulit dibaca dan dimengerti adalah lontar Usada dan lontar Wariga. Sebab lanjutnya, banyak bahasa yang makulit, jadi perlu pemahaman yang lebih dalam ketika mengartikannya. Sementara lontar yang paling sering dibaca adalah lontar Tattwa, yang memuat data mengenai petunjuk agama.
“Tata cara membaca lontar di sini adalah, pengunjung harus mengisi buku tamu, lalu kami sediakan katalog daftar nama lontar. Setelah lontar yang hendak dibaca, diputuskan, baru dicarikan oleh petugas,” katanya.
Lontar di pusdok ini, adalah aset penting budaya Bali, sehingga perlu pelestarian dan pemeliharaan. “Konservasi setiap tahun kami lakukan, agar lontar tidak lapuk dan rusak. Setelah itu diletakan dalam kotak, atau lemari kaca sesuai urutannya," tambahnya.(*)