Ratusan Penonton Berdesakkan Keluar dari Lapangan Astina Gianyar
Tiba-tiba asap mengepul di depan dan membuat mata saya perih
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Agung Yulianto
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Darmendra
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Acara Malam Kreatifitas Seni Mahasiswa (Maksis) Fakultas Pariwisata Universitas Udayana di Lapangan Astina, Gianyar, berakhir ricuh, Sabtu (27/9/2014) malam.
Dari keterangan yang dihimpun Tribun Bali dari sejumlah penonton yang berada di seputaran venue, kejadian berawal dari benda yang diduga gas air mata meluncur dari arah barat panggung. Tak berselang lama, benda tersebut mengeluarkan asap yang bercampur dengan debu.
Asap bercampur debu itu membuat massa mundur. Apalagi gas itu juga membuat mata mereka begitu perih. Massa mulai berhamburan menuju pintu masuk keluar.
Ratusan massa yang kebanyakan remaja, berdesak-desakkan keluar untuk menyelamatkan diri. Namun, pintu masuk keluar yang berukuran tak lebih dari empat meter, membuat sejumlah penonton terjatuh. Mereka terinjak satu sama lain, ada yang mengerang kesakitan ada juga yang minta tolong.
Massa lainnya yang masih terjebak kemudian membobol pagar yang mengelilingi venue. Beruntung, mereka bisa merobohkannya dan berhasil menyelamatkan diri. Para penonton kemudian berlari menjauh mencari air untuk mencuci wajah mereka.
"Saya kira saya akan mati tadi. Asap itu buat saya sesak napas, mata saya perih. Untung bisa keluar dengan selamat," ujar Metalhead asal Klungkung, I Gede Andika Rama Putra kepada Tribun Bali.
Penonton lainnya menjelaskan, saat itu band bergenre Rockabilly, Suicidal Sinatra sedang on stage. Mereka mengatakan sama sekali tidak terjadi rusuh di depan panggung.
"Entah darimana datangnya gas air mata itu, kita tidak tahu," ujar penonton lainnya.
Sejumlah penonton yang kesal kemudian menuntut agar uang mereka dikembalikan. Hal ini sempat membuat suasana menjadi tegang. Yel-yel tuntutan terus diteriakan. Kapolsek Gianyar, Kompol Anak Agung Oka Kalam langsung merespon dengan memberikan imbauan kepada penonton untuk membubarkan diri.
"Saya mohon pengertiannya, saya mohon izin kiranya kegiatan ini dihentikan agar tidak ada korban lebih besar. Mari kita bubar dulu mohon pengertiannya adik-adik. Ini bukan kesalaham panitia, ini musibah," kata Kompol Anak Agung Oka Kalam memberi imbauan.
Secara perlahan para penonton berangsur membubarkan diri. Para panitia acara musik Maksis tampak tidak percaya, pasalnya ini kali pertama mereka mengadakan acara di Gianyar.
"Saya tidak bisa bilang apa-apa," ujar Ketua Panitia Maksis, I Gusti Agung Gede Luhur Winata Putra sembari menyederkan badannya di pagar besi pembatas panggung.
Panitia acara mengatakan tidak tahu terkait dugaan adanya gas air mata tersebut. Mereka hanya berfokus pada keamanan dan kelancaran acara yang sudah dilengkapi izin dan dikawal 99 personel polisi. Namun musibah tak bisa dihindari, panitia saat ini hanya bisa meminta maaf atas tragedi tersebut.
"Kami minta maaf, awalnya acara ini memang akan kita peruntukan amal. Keuntungannya akan kita sumbangkan ke Yayasan Ikang Papa Gianyar. Niat kami murni untuk itu. Masalah izin dan pengamanan kita urus tapi gak tahu sampai begini," ujar Gusti.
Saat ditemui Tribun Bali di lokasi, polisi juga mengaku tidak tahu adanya dugaan gas air mata yang membuat sejumlah pecinta musik underground terluka. Polisi menduga massa bubar hanya karena ketakutan.
"Saya belum bisa berikan keterangan, mungkin saja bukan gas air mata," ujar Kabag Ops Polres Gianyar, Kompol I Wayan Surata dengan singkat. (ipd)