Art and Culture
Trenggono, Bermain Keroncong Puluhan Tahun
"Awalnya senang saja dulu, kemudian kenali, jadilah hobi. Coba dan coba lagi sampai jatuh cinta," ungkapnya.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: imam hidayat
HAMPIR setengah abad lamanya Trenggono menggeluti musik keroncong. Bagi ayah dari penyanyi ternama Yuni Shara dan Krisdayanti ini, keroncong sudah menjadi bagian dari hidupnya, merasuk hingga ke relung terdalam tubuhnya.
Bersama kawan-kawannya di Orkestra Keroncong (OK) Satria Purna Yuda (SPY), Kamis (25/9), Trenggono, pria kelahiran Blora, Jawa Tengah itu tampak begitu menikmati lirik demi lirik yang dinyanyikannya.
Trenggono yang menetap di Bali sejak 20 tahun lalu ini, dalam balutan pakaian hitam dan syal abu-abu, serta topi khas seorang pelukis, ia seakan menikmati momen bernyanyi di panggung Bentara Budaya Bali.
"Saya sudah mencintai keroncong sejak muda. Secara kejiwaan, roh saya merasa senang, dan ia bagian dari alam yang menyatu dengan saya. Kadang kalau diingat lagu-lagu yang lama itu, menyenangkan sekali rasanya. Tapi pada awalnya, saya belum mengkhususkan ke keroncong, masih main musik semua genre," ucapnya pada Tribun Bali.
Meskipun oleh banyak orang keroncong kerap dianggap sebagai sesuatu yang kuno, namun Trenggono tidak terusik oleh pandangan itu. Ia sudah jatuh hati dan tidak bisa dipisahkan dari hidupnya.
"Anak-anak muda kan bilang kalau keroncong itu jadul. Tapi sebenarnya musiknya bagus sekali," kata Trenggono yang awalnya mempelajari keroncong dari mendengarkan RRI.
Katanya, berpuluh tahun lalu, pihak pemerintah, khususnya TVRI selalu mengadakan pemilihan bintang radio. Masyarakat mengapresiasinya dengan serius dan sungguh-sungguh. "Mereka juga mensosialisasikannya dengan baik, sehingga banyak peminat," imbuhnya.
Bagi Trenggono, bahasa dalam lirik lagu-lagu keroncong sederhana dan dalam. Tema-tema yang dikisahkan pun biasanya tentang keindahan dan kepedulian lingkungan. "Itu yang membuat saya masih suka sampai sekarang. Sebenarnya juga bisa menjadi terapi pengobatan," paparnya.
Saat SMA, sekitar tahun 1960an, Trenggono masih mencoba berbagai aliran musik, seperti lagu-lagu hiburan yang bernuansa pop. "Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya saya memilih keroncong," paparnya.
Belakangan Trenggonopun merasa perlu untuk bergabung dengan kawan-kawan sesama pecinta keroncong agar bisa tetap menyalurkan kecintaannya pada seni musik itu.
"Ya, biar saya tidak bengong saja di rumah," katanya sembari bergurau.
Mulanya, Trenggono bergabung dengan kelompok musik Dinas Angkatan Darat Seni Bangunan, sebelum ikut di Satria Purna Yuda, pimpinan Aji Kasno.
"Saya optimis melihat perkembangan keroncong di Bali. Boleh saja kesannya tua, tapi lama-kelamaan akan merambah yang muda," tandasnya penuh semangat.
Ia melihat kini sudah semakin banyak ada kreasi dan inovasi. Penyanyi keroncong juga sudah mulai lebih luwes, mencoba dekat dengan penonton. "Bagus juga cara itu untuk menepis kesan kunonya. Syukur ada beberapa tempat yang bisa mewadahi kami, seperti Bentara Budaya Bali," ungkap Trenggono yang lebih sering berperan sebagai penyanyi.
Lanjutnya, serasa menunjuk pada seorang penyanyi muda; "Lihat saja permainan Ngurah tadi, gayanya enteng saja kan."
Trenggono berpendapat, sesungguhnya keroncong sifatnya relevan, bisa mengiringi lagu barat. Tidak sedikit pula anak muda yang mulai melantunkan lagu pop dan barat dengan keroncong.
Kepiawaian Trenggono bermain keroncong dikarenakan latihan yang terus menerus. Alah bisa karena biasa, begitu katanya. "Sama juga dengan pemain gitar. Awalnya pasti juga karena tidak bisa, tapi karena sering dilatih, jadi biasa," tuturnya.
Keroncong dinilainya tidaklah begitu susah. "Awalnya senang saja dulu, kemudian kenali, jadilah hobi. Coba dan coba lagi sampai jatuh cinta," ungkapnya.
Ia menambahkan, saat berlatih, seorang pemula juga tidak perlu memilih terlalu banyak lagu, cukup satu atau dua saja. Berikutnya, barulah merambah yang lain hingga berhasil mendapatkan rasa senangnya.
"Ya, mungkin akan terjadi seleksi alam. Misalnya ada sepuluh yang berminat, tapi kemudian, mungkin delapan orang beralih ke pop, sisanya baru ke keroncong," tandasnya.
Keroncongpun memiliki patern tersendiri. Karakternya sudah ada, sehingga tidak perlu ditambahkan dengan piano dan alat musik lainnya. Komposisi pemain musik baiknya tidak lebih dari tujuh orang.
"Di Bali, keroncong masih bisa bertahan sampai sekarang, itu karunia Tuhan," kata Trenggono yang kini tinggal di kawasan Renon.
Selain itu, keroncong dianggap melambangkan kesederhanaan, persahabatan, dan kebersamaan. (Ni Ketut Sudiani)
Nama : Trenggono
TTL : Blora, Jawa Tengah, 4 Oktober, 1941.
Anak :
1. Wahyu Setianing Budi (alias Yuni Shara)
2. Krisdayanti (alias KD)
3. Laras Dewantara
4. Lestari Merdeka Putri
5. Tri Laksono Subekti
Pendidikan :
SMA Dharma Putra Salatiga
ASRI Yogyakarta
Tambahan :
- Pernah mendapat penghargaan dari RRI Malang
- Kerap diundang menjadi juri
- Sering mengisi workshop untuk pengembangan musik Keroncong.
- Sebagai anggota Komunitas Satria Purna yang juga bergabung di Komunitas Pecinta Keroncong Bali.