Art and Culture

Dede Suhita Kembangkan Art Work Beraliran Cadas

Dede hendak menyuarakan bahwa tidak ada yang keliru dengan lukisan genre itu

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Agung Yulianto

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani

DEDE Suhita, seniman di Bali yang memilih jalur underground, menciptakan lukisan-lukisan cadas. Meskipun lahir dan tumbuh di tengah kentalnya seni tradisi Bali, Dede Suhita justru menemukan jalan sendiri melalui berbagai art work beraliran metal.

Pria berusia 44 tahun ini tidak mengubah haluannya, walaupun publik luas, terutama masyarakat pecinta seni, belum sepenuhnya bisa menerima lukisan yang kerap menampakkan kengerian, kematian, dan sesuatu yang bernuansa keras.

Melalui karya seni yang terus-menerus dihasilkannya, Dede hendak menyuarakan bahwa tidak ada yang keliru dengan lukisan genre itu.

Saat ditemui Tribun Bali di sebuah pameran di Denpasar belum lama ini, dia sedang asik menggerakkan alat gambarnya di atas kertas. Melukis dengan spontan, tanpa terpaku pada sketsa. Pada pameran itu, hasil karyanya juga ikut dipajang.

Lukisan karya Dede yang ditampilkan saat itu seakan mengekspresikan kebebasan tak berbatas. Gambar tengkorak, ceceran darah, dan manusia-manusia kurus mengerikan ditampilkan begitu saja ke ruang publik.

Bagi Dede, apa yang dikaryakannya sejauh ini tidaklah semata asal membuat sesuatu yang verbal, terbuka, tanpa konsep yang jelas. Dia mengaku sebagian besar melewati proses olah ide yang cukup panjang.

"Idelah yang terpenting. Bagaimana pikiran dan imajinasi bisa sampai ke batas itu. Ketika dituangkan ke kertas, semua teknik pada dasarnya sama saja," jelas Dede yang akan berpameran ke Jerman pada Oktober ini.

Kini Dede juga mengembangkan daya kreasinya dan mengajak anak-anak muda untuk berkarya bersama melalui Komunitas Tinta Hitam. Karya seniman kelahiran Denpasar, 22 November 1970 itupun ternyata telah diakui band-band metal di sejumlah negara, seperti di Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara di Eropa.

Sejumlah band death metal dan metal size yang turut mengakui kualitas karya Dede di antaranya Lividity, Corpse Gristle zine, Pencil Lead Srynge, dan lainnya. Dede mengaku lukisan genre seperti itu justru lebih banyak diapresiasi masyarakat luar.

Menurutnya, apa yang dibuatnya berbeda dengan teknik manga yang sudah ada pakemnya. Dalam hal art work, ada beberapa teknik yang bisa digunakan. Tapi dia lebih suka mengedepankan unsur spontanitas. "Tanpa sketpun, langsung saja tuangkan apa yang ada di kepala. Untuk tema, tidak selalu harus brutal dan verbal," katanya.

Karena tinggal dan berkarya di Bali, Dede tidak bisa melepaskan unsur Pulau Dewata dalam karyanya. "Saya tidak bisa lepas dari vibrasinya. Saya ada membuat tentang tokoh pewayangan yang hidup di dalam laut dan sedang melawan ular," katanya. (Tribun Bali cetak/sud)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved