Simpang Ring Banjar
STT Lila Sentana Siap Gelar Bazar Duduk
Banjar Kayangan, Desa Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: imam hidayat
TRIBUN-BALI.com - Belasan anyaman janur dipasang pada setiap sudut bangunan Balai Banjar Kayangan. Anyaman yang ditata rapat tersebut membuat tidak satu pun cahaya matahari yang bisa masuk dalam balai banjar, sehingga ruangan tampak gelap.
Barang-barang antik yang dipajang di sana, memberikan kesan mistis pada balai banjar. Warga setempat mengatakan dekorasi menyerupai ruang angker sudah menjadi ciri khas Sekaa Teruna Teruni (STT) Lila Sentana saat mengadakan bazar.
Organisasi kepemudaan yang diketuai I Kadek Ava Arista, pada tanggal 5-8 November ini akan menggelar bazar malam. Sejauh ini, perlengkapan mereka sudah matang. Baik dalam mencari pedagang yang diajak bekerja sama maupun perlengkapan dekorasi bazar.
Kelian Dinas Banjar Kayangan, I Wayan Sudirta mengatakan, penggalian dana ini dilakuka bukan karena STT membutuhkan dana mendesak. Namun disebabkan mereka tidak ingin menyia-nyiakan giliran mengadakan bazarnya.
"Di Desa Peguyangan Kangin ada 11 organias STT. Kalau semua organisasi itu rutin menggelar bazar, berarti kami hanya mendapat giliran setiap 11 tahun sekali. Karena itu lah kesempatan ini tidak boleh disia-siakan," ujarnya saat ditemui di balai banjar, Rabu (29/10).
Hal senada juga dikatakan oleh I Putu Ardiana, seorang anggota pemuda yang berkerja di percetakan. Kata dia, meski pun harus membagi waktu kerja dengan bazar, hal tersebut tidak menjadi masalah buatnya. Di Banjar Kayangan, bazar buka dari pukul 19.00 Wita sampai pengunjung habis sekitar pukul 02.00 Wita.
"Tidak masalah bila harus bergadang sampai pagi, saya tidak merasa tertekan. Sebab sudah menjadi keharusan anggota pemuda," tandasnya.
Dalam bazar ini, satu kupon bazar seharga Rp 40 ribu. Masing-masing anggota mendapat tugas menyebarkan tujuh kupon. Namun, kata Ardiana, kupon tidak harus habis.
"Kalau kupon tidak habis terjual, bisa kok dikembalikan. Tidak harus si pemuda yang membayar kupon yang tak laku itu," ujarnya.
Pengedaran kupon yang tidak harus habis sangat diapresiasi masyarakat setempat. Sebab orang tua maupun anggota pemuda yang tidak memiliki teman, tak terbebankan oleh pembayaran kupon. (weg)