Youngstar
Ahli Forensik Harus Rasakan Jadi Hacker
I Wayan Anggi Sukarmana ahli forensik IT asal Denpasar, Bali
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Terjun ke dunia forensik IT membuat I Wayan Anggi Sukarmana (22), selalu ingin tahu pada hal yang baru.
Tak hanya itu, ia pun selalu mencurigai sebuah permasalahan layaknya seperti seorang detektif.
Sebagai ahli forensik IT, pekerjaan membedah barang bukti yang diserang para hacker, dan menguak kebenaran, keaslian dan kebenaran.
Anggi biasa ia disapa, tercatat sebagai mahasiswa semester akhir Jurusan Sistem Komputer Stikom, Bali.
Sebagai seorang forensik IT, Anggi dituntut mampu membedah kasus untuk memperoleh detil fakta yang ada.
Para hacker yang kini semakin lihai, didukung perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat Anggi harus lebih cermat meneliti agar tidak terkecoh oleh umpan para penyerang.
"Untuk menangkap pencuri, juga perlu jadi pencuri. Forensik dan hacking tidak bisa dipisahkan. Forensik juga harus merasakan jadi hacker," guraunya.
Saat ditemui Tribun Bali di kampusnya, di Renon, Denpasar, Rabu (29/10/2014) lalu, Anggi, membagikan rahasianya ketika menjadi forensik investigator.
Dalam melakukan investigasi, Anggi mengaku bekerja seperti forensik mayat. Dokumentasi fakta yang ditemukan harus ditata secara baik.
Teknis dalam memecahkan masalahnya pun mesti bagus. "Jadi biasanya saya diberi barang bukti, berupa rekaman hasil seseorang menyerang suatu sistem. Rekamannya berupa data, network file capture yang kemudian dibuka di- wire shark," tuturnya.
Barang hasil curian itu, kemudian digunakan untuk melacak keberadaan si penyerang. Berikutnya, setelah dilihat kembali dan mencari IP address, ditelusuri metode yang digunakan penyerang masuk ke dalam sistem.
Selain itu, celah keamanan apa yang digunakan para hacker, juga perlu ia pecahkan. "Pendeknya, cara kerja saya sama dengan jurnalistik, harus dapat 5W+1Hnya," tegas anggota unit kegiatan kampus Kelompok Studi Linux (KSL) Stikom Bali. (*)