Art and Culture
Tak Terpisahkan dengan Monolog, Ini Foto dan Kisah Didon Kajeng
Karena total tidak bisa melihat saat black out, jadi dimunculkan dua orang yang datang
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Agung Yulianto
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani
AKTOR Didon Kajeng dan monolog, bak dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Dia sempat hendak undur diri sesaat dari berteater dan memilih jalan lain. Tetapi lagi-lagi, dia merasa terpanggil untuk kembali melakoninya.
Tangan kanannya meraba kursi putar, menggapai sebuah dasi di sandaran kursi. Satu per satu kelengkapan seragam kerja dikenakannya. Setelah semua dipakai, sambil memandang jauh ke depan, dia terdiam sejenak. Perlahan, narasi demi narasi disampaikannya.
Dalam cuplikan Monolog ‘Orgil’ yang dipentaskan di Bentara Budaya Bali, Gianyar itu, Didon Kajeng sedang memerankan tokoh wakil rakyat. Seorang wakil rakyat yang begitu bangga dengan harta kekayaannya, tapi pada saat bersamaan seakan tidak percaya dia terseret persoalan hukum.
Pertunjukan yang sama pernah ditampilkan di Jakarta tahun lalu, namun kini dilakukan banyak penyesuaian, karena penglihatan Didon sedang mengalami gangguan. Kemampuannya melihat objek diperkirakan hanya 30 persen.
Kepiawaian dan totalitas Didon memainkan karakter demi karakter serta penguasaan panggung, seakan berhasil mencuri perhatian penonton untuk fokus hanya pada permainannya
Agaknya memang tidak banyak hadirin yang menyadari sejatinya saat bermain, Didon hampir sepenuhnya tidak mampu melihat. Dia mengandalkan ingatan dan kode-kode tertentu. “Saya mau penonton menikmati pementasan murni sebagai pementasan, maksudnya bukan karena kasihan akan kondisi saya,” kata Didon.
Pada adegan tertentu yang penataan lampu seutuhnya gelap serta membutuhkan perpindahan blocking (posisi) yang cepat, Didon menyiasatinya dengan memunculkan pemain figuran. Hal ini misalnya terjadi saat dia akan berganti peran dari pasien gila menjadi orang nomor satu di tanah air.
“Karena total tidak bisa melihat saat black out, jadi dimunculkan dua orang yang datang seperti akan memindahkan saya ke sel tikus, tapi sebenarnya itu sengaja dirancang sehingga bisa pindah dalam waktu cepat,” kata aktor yang sudah mulai mengenal teater sejak SMP itu.
Sementara untuk gerakan-gerakan lainnya, dia menggunakan objek tertentu sebagai penanda. Seperti saat akan menuju ke sisi kanan panggung, Didon memegang ujung kasur. Berikutnya, dia menghitung berapa langkah yang harus diambil.
Sedari awal hingga akhir pertunjukan, permainan Didon terbilang rapi, temponya terjaga. Dalam kondisi seperti itu, tentu tidak mudah bagi seorang aktor untuk bermain total.
“Yang gangguan kan mata, bukan otak saya..hehe,” katanya setengah bergurau. Dia merasa harus mampu menyesuaikan diri dari suatu kondisi di mana awalnya dia bebas, namun kini ruang geraknya terbatas.
Selama latihan, tim kreatif, termasuk sutradara pementasan bantu membacakan naskah dan merekamnya. Selanjutnya Didon akan mendengarkan rekaman itu berulang-ulang kali.
“Memang butuh waktu yang lebih lama untuk menghafal. Tidak ada pilihan lain, harus membiasakan diri. Merekalah yang banyak membantu saya. Syukur sekali mereka sabar dengan saya,” ujar suami Jessica Poetiray itu. (Tribun Bali cetak/sud)