Griya Style
Bibir Sumur Disulap jadi Taman Kecil
Makin Cantik oleh Anggrek Bulan dan Cattleya
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Semakin terbatasnya lahan yang tersedia di daerah perkotaan, tak menyurutkan orang-orang mencoba mengolah penataan rumahnya semenarik dan seartistik mungkin.
Misalnya, soal penataan kebun yang sering dinilai menghabiskan banyak lahan. Di tangan-tangan orang kreatif, membuat taman tidak perlu memakan tempat khusus, bisa di atas atap, bahkan ada juga yang memanfaatkan sumur.
Hal itu yang dilakukan AA Putu Widiana, seorang arsitek dan developer. Pria 41 tahun ini, menyadari sumur bor yang ada di rumahnya bisa dieksplorasi, jadi tak hanya sebatas menjadi sumur saja.
"Lagian sudah tidak dikerek kan sumurnya, jadi kita tata saja," tuturnya saat Tribun Bali berkunjung ke rumahnya di Jalan WR Supratman, Denpasar, Bali, Kamis (27/11/2014) lalu.
Awalya sumur itu berisi pompa, air di dalamnya bisa digunakan untuk menyiram. Hanya saja, saat musim kering, terutama enam bulan belakangan ini, airnya habis.
Gung Wid pun memutuskan untuk mendekorasi sumur itu. Tempat mencuci pakaian yang mulanya ada di dekat sumur kemudian dibongkar.
Sehingga sumur itu sepenuhnya bisa ditata menjadi kebun mini. Sumur yang sudah dibangun sejak berpuluh-puluh tahun itu dikelilingi pohonan hias.
Pada bagian atasnya dipenuhi sejumlah tanaman. Sementara bagian pinggiran luar sumur yang sebelumnya hanya berupa semen biasa, diberi hiasan berupa batu apung.
"Saya dapat inspirasi saat jalan-jalan ke Ubud," terangnya sambil menjelaskan bagaimana proses pemasangan batu apung kali yang menurutnya semakin langka.
Ia membeli tiga karung batu apung, kemudian ditempel menumpuk. Pada bagian belakangnya, diberi luluh sebagai perekat.
Satu karung batu apung pada dua tahun lalu dibelinya seharga Rp 75 ribu. "Memang harus hati-hati pemasangannya dan juga cermat. Mesti dipastikan batu yang satu menyentuh atau merekat pada batu lain. Ukurannya tidak bisa terlalu timpang," imbuhnya.
Agar tampak lebih indah, selain dipasang bertumpukan, pada beberapa bagian dibuat pula pola bunga.
"Batu apung itu unik, dan kesannya dia sudah menempel di sana, bukan karena kita yang buat," sebutnya.
Agar padu dengan tatanan kebun di sekitarnya, Gung Wid juga menggunakan batu apung pada bagian dasar sisi-sisi kebun.
Semuanya dibuat serasi, dengan tetap menggunakan batu sebagai dekorasinya. Begitu juga dengan bahan bata merah.
Pada sisi kanan dan kiri sumur, dibuatkan penyangga dari batu bata merah setinggi dua meter.
Ujung penyangga tidak dibuatnya kotak datar, melainkan diberi lubang pada keempat sisi yang ternyata dapat digunakan untuk memasang lampu kecil.
Pada malam harinya, cahaya remang lampu itu akan menambah indah kebun, warnanya selaras dengan bata penyangga.
"Bagus jadinya kalau ditata seperti ini," tuturnya. Selain itu, pada ujung penyangga pun masih bisa dipakai untuk tumbuhnya anggrek atau tanaman gantung lainnya.
Meskipun sumur tersebut sudah dirombaknya menjadi kebun mini, tapi Gung Wid tetap menyisakan katrol kerek yang sudah berkarat, dibiarkannya menggantung di atasnya.
"Ya, jangan dilepas. Biar anak-anak saya tahu bagaimana sih orang-orang zaman dahulu menimba air.
Bagaimana bentuk katrolnya. Kalau sekarang kan mereka tinggal tekan tombol dan beres, sudah dapat air," jelasnya sambil tertawa. (*)