DENPASAR

Terompet Marsha dan Spongebob Paling Diminati

Perayaan Tahun Baru 2015 sudah diambang pintu. Perajin terompet sudah bersiap menangguk untung di pekan sebelum malam pergantian tahun.

Penulis: Muhammad Qomarudin | Editor: mshudaini

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Geliat perajin terompet menjelang Tahun Baru mulai terlihat. Seperti yang terjadi di jalan Wibisana Utara Banjar Balun Desa Pamecutan Kaja Denpasar. Berbagai macam jenis terompet mulai siap dipasarkan.
"Model Marsha dan Spongebob paling banyak dipesan," kata Suyitno, seorang perajin terompet, Rabu (10/12).
Ia mengatakan, bentuk terompet harus terus diusahakan baru tiap tahun. Jika bentuknya hanya itu-itu saja, maka peminatnya juga berkurang.
Sedangkan untuk kisaran harga, warga asal Mojokerto ini mematok harga antara Rp 15 ribu-20 ribu untuk terompet besar. Sedangkan untuk terompet kecil, ia mematok harga antara Rp 3ribu-5 ribu per buah.
Suyatno mengaku bisa menghasilkan 25-30 ribu terompet dalam jangka waktu delapan bulan. Terhitung sejak bulan April, ia sudah memulai menyiapkan model terompet.
"Kalau sudah masuk Desember, fokus pada proses penyelesaiannya. Kalau awal bukan April, kami masih bikin desainnya," ujarnya.
Dari sekian banyak terompet yang dihasilkan, akan dibedakan menjadi tujuh bentuk. Ada bentuk Marsha, Spongebob, naga, angry bird, bunga, topi dan terompet bentuk konvensional.
"Kalau hotel biasanya pesan yang bentuk biasa (konvensional) dengan warna yang disesuaikan. Pesannya lumayan banyak, antara 250-500 buah," ujarnya.
Suyatno telah menekuni pekerjaan ini sejak 1995. Berawal dari kedatangan seorang teman dari Kediri dan Solo yang memasarkan terompet ke Denpasar, ia coba-coba untuk ikut belajar membuat terompet.
"Awalnya masih asal-asalan, alias asal bunyi saja. Lama-lama mulai belajar membuat bentuk yang unik," tutur Suyatno.
Pasang surut bisnis yang ia tekuni ia anggap sebagai tantangan. Bahkan saat awal-awal menggeluti bisnis ini, ia sempat merugi dalam jumlah besar akibat bencana banjir.
"Dulu awal 1995 barang saya habis kena banjir. Tapi saya tekuni terus hingga seperti sekarang," ujarnya.
Untuk mengatasi ancaman kerugian, saat ini ia cuma melayani pesanan. Banyak sedikitnya jumlah produksi, akan disesuaikan dengan jumlah pesanan. Suyatno juga tak menerima pembayarain di belakang. Semua transaksi akan dilayani jika pembayaran diselesaikan di depan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved