Simpang Ring Banjar
Rp 1 Miliar Anggaran untuk Renovasi Pura
Tonjolkan Pepalihan Khas Badung
Penulis: I Made Argawa | Editor: Iman Suryanto
Pola arsitektur khas Badung dalam bangunan pelinggih di Pura lebih rumit. Sebab hiasannya berupa tumpukan batu padas lebih banyak, jika pelinggih yang dulu menggunakan batu bata, sekarang batu padas Pura Dalem Teges yang berada di wilayah banjar Adat Teges saat ini sedang dalam tahap renovasi.
Perbaikan pura yang disungsung oleh tiga banjar adat yakni Banjar Adat Teges, Banjar Adat Tegal Buah dan Banjar Adat Abasan dianggarkan kurang lebih Rp 1 miliar dari iuran warga.
“Iuran tersebut diambil dari setiap Kepala Keluarga (KK) yang ikut nyungsung atau sembahyang di Pura Dalem Teges. Masing-masign Rp 2 juta yang bisa diangsur dalam dua tahun,” papar Bendahara II Pura Dalem Teges, Nyoman Dharmawan kepada Tribun Bali ketika ditemui di Balai Banjar Teges, Sabtu (20/12/2014).
Alasan penyungsung Pura Dalem Teges melakukan renovasi karena kondisi bangunan pura sudah lama. Renovasi juga dimaksudkan untuk mengangkat bangunan pura karena saat ini lokasinya berada di bawah badan jalan di belakang pura.
“Untuk membuat fondasi hingga rata dengan badan jalan di sebelah timur dan utara pura biayanya telah habis Rp 60 juta,” paparnya.
Pria yang bekerja di hotel di daerah Kuta itu menyebutkan, pembangunan Pura Dalem Teges akan memakan waktu yang sedikit lebih lama karena pepalihan atau arsitekturnya tetap mempertahankan model yang lama atau khas Badung.
“Pola arsitektur khas Badung dalam bangunan pelinggih di Pura lebih rumit karena hiasannya berupa tumpukan batu padas lebih banyak, jika pelinggih yang dulu menggunakan batu bata, sekarang batu padas,” ujarnya kepada Tribun Bali.
Jumlah penyungsung di Pura Dalem Teges dari Banjar Teges sebanyak 100 KK, Banjar Tegal Buah 130 KK dan Banjar Abasan 30 KK. Jika nanti anggaran dana yang terkumpul belum bisa menutupi biaya renovasi, panitia akan memungut iura lagi kepada warga penyungsung. “Akan ada pungutan lagi, saat ini proses pengumpulan uang dari warga masih berlangsung,” paparnya.
Gede Ngurah Askara, seorang tukang yang membuat pelinggih di Pura Dalem Teges mengatakan, pembangunan tujuh pelinggih dan sebuah bale gede/besar memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena arsitekturnya sedikit lebih rumit.
“Masyarakat menginginkan pepalihan atau arsitektur untuk pelinggih yang baru sama dengan yang dulu, yakni khas Badung,” jelasnya.
Selain arsitektur lebih rumit, pria yang bekerja bersama istrinya itu juga menerangkan, sedikitnya tukang yang mengerjakan pelinggih di Pura Dalem Teges membuat pengerjaannya menjadi lebih lama. Pria asal Desa Munggu, Badung itu tampak hanya bekerja berdua dengan istrinya Nengah Semerni.
“Kami bekerja bertiga saja, satu lagi tukangnya tidak bekerja karena masih libur Hari Raya Galungan,” paparnya. (arg)