Art and Culture
Goresan Garis Ari Didasari Rajahan
seniman I Nyoman Ari Winata memilih bergelut dengan drawing karena merasa di sanalah kesederhanaan dan kejujuran ditemukan.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Garis adalah jiwa, garis adalah napas, air mata, tubuh batas antara benar salah, hidup dan mati. Keyakinan itu hingga kini masih tertanam di benak seniman I Nyoman Ari Winata. Kata-kata itu pula yang mengantar Ari sampai saat ini masih menekuni dunia drawing.
Selama lebih dari 20 tahun menjalani proses kreatif, di tangan sang seniman telah lahir ribuan karya. Semuanya masih tersimpan rapi di kediamannya, di Jalan Ratna, Denpasar. Sebagian berangkat dari pengalaman pribadi, tetapi ada pula yang menggambarkan kepekaan sosial, maupun merefleksikan memori kulturalnya.
Dia memilih bergelut dengan drawing karena merasa di sanalah kesederhanaan dan kejujuran ditemukan. Dalam sebuah katalog pameran, dia sempat mengatakan, bakti dan kerendahan hati sebagai dasar penciptaan, tangan dan pikiran adalah mediatornya dan terefleksikan dalam karya.
“Saya memilih untuk tetap konsisten di drawing. Apapun risikonya, saya siap untuk menjalaninya,” ujar Ari ketika ditemui Tribun Bali belum lama ini di Denpasar.
Kesungguhan Ari dapat pula dibaca sebagai bentuk idealismenya sebagai seniman. Dia berkarya tidak semata memenuhi tuntutan pasar maupun kecenderungan umum yang sedang marak.
Baginya, drawing adalah proses pembelajaran yang berlangsung terus menerus. Dia tidak ingin menciptakan sesuatu yang instan, namun selalu berupaya menggali dan terus menggali berbagai kemungkinan yang ada.
Sebagai pribadi yang lahir dan tumbuh di Bali, Ari tidak bisa lepas dari kehidupan sosial dan budaya yang melekat dalam dirinya. Goresan setiap garis seniman asal Tabanan ini, sebagian besar didasari oleh rajahan atau parba (semacam altar) pengabenan.
“Iya, dasarnya adalah rerajahan. Saya melihat, penting untuk memahami sebuah garis, memahami batas antara luar dan dalam. Ada sesuatu di drawing, kemurnian dan kejujuran,” ujar Ari yang sudah mulai bersentuhan dengan kesenian sejak usia 5 tahun.
Kurator seni rupa, I Wayan Seriyoga Parta pernah menuliskan, pengalaman kultural membawa Ari untuk semakin meyakini garis sebagai medium ekspresi, dalam karyanya yang mengetengahkan kecenderungan realistik.
Ari dinilai dengan sadar mengekspos kekuatan garis pada seni gambar rerajahan yang membekas pada memorinya. Karena itu pula, Ari dengan sengaja memberi penegasan outline pada objek-objek karyanya.
Kumpulan garis demi garis yang kemudian menghasilkan bentuk tertentu, menurutnya apabila intens dilakukan akan memancarkan cahaya. “Nanti bisa dilihat, akan tampak sendiri pancaran cahayanya,” terang Ari yang begitu percaya akan kesungguhan kerja.
Ari sempat menunjukkan karya terbarunya yang belum diberi judul, yang diniatkan sebagai pemaknaan menyambut tahun baru. Dalam drawing itu, digambarkan seorang laki-laki tengah memegang semacam topeng rangda.
“Saya juga tidak tahu, apakah ini bisa diartikan laki-laki ini akan melepas atau justru memasang topeng. Tapi tampak bagaimana ikatan emosional antara penari dan topengnya,” jelas Ari.
Dalam menjalani proses kreatifnya, Ari mengaku membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Dia tidak pernah memaksakan, namun ide kerap muncul seketika. Hal itu dinilainya sebagai respon atas bacaan, penglihatan, juga mendengar dan mengamati sekitar.
Biasanya ketika membuat karya, pensilnya selalu memulai dari ujung kiri kertas, kemudian terus mengalir mengikuti imajinasi. Bagian utama yang dirampungkan adalah kepala, namun apabila gambar tiga dimensi, tanganlah yang menjadi fokus utama.
“Setiap seniman, tarikan garisnya tidak ada yang sama. Saya memiliki dunia sendiri, melakukan apa saja yang ingin saya buat. Melalui drawing, saya ingin menciptakan jalan masuk kepada publik, nanti mereka yang mencari dan menemukan pertanyaan demi pertanyaan,” terangnya. (*)
.jpg.jpg)
