Griya Style

Tiga Pilar Makin Kokoh dan Menambah Estetika

Beri Nuansa seperti Bangunan Khusus untuk Para Raja

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani

TRIBUN-BALI.COM - Rumah bukan hanya tempat berteduh. Hal ini yang sangat dirasakan oleh sebagian dari kita yang lebih menyukai kegiatan di dalam rumah di bandingkan di luar rumah.

Bahkan tak jarang bentuk dan tipe rumah pun beraneka ragam. Ada orang yang menyukai rumah gaya modern, seperti minimalis juga ada yang menyukai gaya tradisional.

Pilihan untuk memilih rumah gaya seperti apa itu tergantung dengan selera Anda. Pemilik rumah akan memanfaatkan lahan yang ada untuk mempercantik rumah.

Misalnya saja dengan menempatkan pilar atau tiang. Pada umumnya tiang atau pilar memiliki fungsi untuk menopang bangunan tersebut agar tetap kokoh berdiri.

Pilar selain berfungsi menyangga bangunan rumah, dapat pula dibuat menarik untuk mempercantik bangunan. Seperti yang dilakukan keluarga besar, Ida Bagus Alit, di Geria Satria di Jalan Veteran, Denpasar.   

Belum lama ini, Alit sempat mengajak Tribun Bali melihat-lihat seluruh area Geria Satria. Di antara semua bangunan tradisional yang ada, terdapat satu bangunan yang memiliki konsep berbeda, yakni mengkombinasikan antara tradisional dan modern.

Bagian yang cukup mencolok dari bangunan dengan tinggi sekitar tiga meter itu adalah pilar-pilarnya.

Apabila pada umumnya pemilik rumah hanya membuat satu pilar di setiap sisi atau sudutnya, namun kali ini dalam satu sudut, langsung dibuatkan tiga pilar.

“Agar lebih kokoh menyangga bangunan, makanya dibuat besar-besar. Selain itu juga ada nilai estetikanya. Jadi konsep untuk bangunan satu ini adalah bagaimana mengkombinasikan antara yang lama dengan baru,” tutut Alit.

Apabila diperhatikan, pilar berbentuk bulat dan tinggi menjulang dengan diameter sekitar 30 sampai 40 cm serupa dengan bangunan gedung-gedung pemerintahan.

Ketiga pilar dalam setiap sudut di depan, dipasang berdekatan, sehingga memberi nuansa seperti bangunan khusus untuk para raja atau museum-museum tertentu.

“Bahannya dibuat dari batu paras putih, warnanya sengaja dibuat krem seperti itu,” tambah Alit. Umumnya, pilar rumah tradisional di Bali dibuat menggunakan kayu jati, juga ada yang memakai batang pohon kelapa.

Sementara itu, bagian atas dibuat lengkung melebar, menyerupai setengah lingkaran agar tampak dinamis dan tidak kaku. Begitu juga dengan pintu-pintu lainnya dibuat serupa, tidak persegi panjang seperti umumnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved