Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Art and Culture

Doddy Ngayah Kebudayaan Bali Melalui Jepretannya

Niatan luhurnya tampak dalam sejumlah karyanya yang dihadirkan pada pameran documenter photo art, "Tejakula & Blangsinga" di Griya Santrian, Sanur.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Seni fotografi tidak melulu bicara tentang keindahan, juga tidak sekadar mengabadikan sebuah momen.

Bagi fotografer Doddy Abenk, setiap bidikan kamera hendaknya memiliki konten yang bernilai.

Karena itu pula, melalui setiap jepretan potretnya, Doddy ingin ngayah untuk merawat kebudayaan Bali.

Niatan luhurnya itu tampak dalam sejumlah karyanya yang dihadirkan pada pameran documenter photo art, "Tejakula & Blangsinga" di Griya Santrian, Sanur.

Sejak delapan tahun lalu, Doddy dengan sadar mengikuti panggilan cahaya batinnya, meski harus melewati sekian rintangan.

Dia dengan tekun menangkap dan mengumpulkan momen berharga kehidupan maestro Tari Kebyar Duduk, Ida Bagus Oka Wirjana yang lebih dikenal dengan sebutan Ida Bagus Blangsinga (Gus Aji).

“Saya selalu ingat, Gus Aji pernah berkata bahwa sebagai penari, ia hidup dari panggung ke pangggung. Sementara yang bisa saya lakukan, melindungi dan mengabadikannya lewat dokumentasi, karena semuanya berbicara tentang waktu,” tutur Doddy saat berbincang dengan Tribun Bali, Jumat (16/1/2015).

Dari ribuan foto yang dihasilkan, dalam pameran kali ini Doddy hanya menampilkan 15 foto yang digarapnya sedari tahun 2006 hingga 2014. Dari deretan foto itu, terlihat jelas pesan yang hendak disampaikan Doddy.

Mengamati setiap karya yang ada, seakan publik diajak masuk dan memahami dunia sang seniman tari.

Pada foto ‘Ida Bagus Blangsinga Kebyar Duduk Dance’ (2006), ukuran 90 x 90 cm, tampak bagaimana Doddy membidik detail lekuk gerakan tubuh Gus Aji saat menari Kebyar Duduk.

Gambaran yang lebih utuh, dapat disimak dalam ‘Ida Bagus Blangsinga Attraction’ (2014), ukuran 80 x 140 cm.

Di dalamnya, ada ratusan foto diri Gus Aji dalam berbagai gerakan tari dan ekspresi, yang kemudian digabungkan menjadi satu, seolah ada ribuan sosok sang seniman.

“Itu semuanya diambil dalam satu momen. Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda,” imbuhnya.

Berkolaborasi dengan Tjandra Hutama K, Doddy membuat sebuah mozaik. Ratusan foto yang mengisahkan sosok Gus Aji sebagai penari, maupun sisi lain kehidupannya, semua menyatu padu membentuk potret sebuah wajah.

“Saya tidak mengerti proses teknik pembuatannya, Tjandra yang bantu. Tapi foto-foto saya yang siapkan. Ya, bila diperhatikan, ada beberapa momen yang menceritakan sisi lain beliau,” terang Doddy, yang sempat mengikuti pameran "A Tribute to Maestro" di Bentara Budaya Bali pada 2013 lalu.         

Doddy menyampaikan, sesungguhnya ia juga memiliki banyak foto yang memotret sisi lain sang seniman, yang barangkali banyak orang tidak mengetahuinya.

Hanya saja, pada kesempatan kali ini, ia memilih untuk fokus mengedepankan figur Gus Aji sebagai penari.

“Saya sangat menghormati beliau. Cara penyampaian untuk menghadirkan kisah pribadi itu saya olah dalam bentuk mozaik tersebut. Kalau dilihat dengan cermat, banyak foto-foto menarik di sana,” imbuhnya. 

Fotografer yang sempat turut dalam pameran "Spiritual Dancer" di Ginza, Tokyo ini juga mengabadikan maestro asal Tejakula, Buleleng, Ni Luh Menek dan kehidupan komunal penari wayang wong.

Pengalaman kreatifnya masuk ke dalam kehidupan kedua maestro asal Bali Selatan dan Bali Utara itu, terbilang cukup berbeda.

Doddy sempat kesulitan mengikuti Menek karena gerak tarinya terbilang sangat cepat, sehingga dia harus selalu sigap menekan dan membidik mata kamerannya.

Selain itu, dia perlu melakukan pendekatan tertentu karena Menek dan kelompok kesenian di sana tidaklah terlalu terbuka.

Doddy bahkan sempat mengalami dilema, terjadi kesalahpahaman dan kecurigaan terkait proteksi adat dan kesakralan wayang wong Tejakula. Namun semuanya dapat diatasi melalui komunikasi yang jelas dan hangat.

“Mereka berdua luar biasa. Saya pertama kali melihat Gus Aji menari di Kesiman tahun 2006. Saya langsung merinding, ingatkan saya pada seorang penari Bali pada tahun 80-an. Saya berpikir, inilah penari yang saya cari-cari,” kenangnya.

Sebagaimana disampaikan kurator pameran, Iwan Darmawan, memindahkan kehidupan ke dalam citra dua dimensi, sangat memerlukan kedekatan personal agar rohnya tidak terlalu banyak hilang.

Apalagi dokumenter, harus memiliki waktu hidup yang panjang dan mudah dikenali melewati masa depan yang tidak terbatas.

Doddy dinilai berusaha melakukan sesuatu yang tanpa disadarinya, bisa dikatakan telah berhasil mengurangi sebanyak mungkin kehilangan roh subjek karya foto-fotonya.

Walaupun untuk mengetahui apakah penikmat foto di masa depan akan juga memiliki pemahaman yang sama dengan apa yang disajikannya saat ini, itu masih harus menunggu waktu.

Sebagai orang lingkar luar, Doddy dipandang dapat menghindari jebakan eksotika subjek fotonya yang memiliki penawaran akan keindahan, keunikan, super ekspresif.

Doddy lebih memilih memutar untuk kemudian secara personal masuk lebih ke dalam kehidupan subjek fotonya.

Hal tersebut tidak mudah karena penolakan secara halus begitu terasa, sehingga berkali-kali frustasi dan terbersit niatan untuk menarik diri. Namun keputusasaan itu sirna oleh semangat yang besar untuk melestarikan kebudayaan.

Sang fotografer tidak hanya memotret kebudayaan adi luhung, tapi juga memindahkan ekspresi secara penuh setiap jiwa yang menjadi bagian dari kebudayaan.

“Saya dedikasikan ini semua untuk kebudayaan Bali,” tandas Doddy. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved