Tak Kebagian Siswa, SMA PGRI di Bali Ini Pilih Tutup
Kami tak bisa berbuat apa-apa, jadinya ditutup. Siswa pada pindah itu.
Penulis: I Gede Jaka Santhosa | Editor: Kambali
TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Bangunan sekolah SMA PGRI Pekutatan, Jembrana, Bali, Minggu (25/01/2015) berbau apek, debu, dan sarang laba-laba menempel di dalam ruang kelas. Empat gedung yang berada di sekolah itu, cat temboknya usang, plafon di sejumlah kelas jebol dan serpihannya jatuh di dalam ruang kelas. Atap genting juga bolong.
Menurut warga sekitar, pengelola menutup sekolah setelah tak ada satu siswa yang mendaftar pada tahun ajaran 2013-2014. Sekolah swasta yang berada di Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan ini dari tahun ke tahun sepi peminatnya karena berdirinya sekolah baru dengan status negeri.
Mantan Kepala Sekolah PGRI Pekutatan, Ni Nengah Sukeni saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya kemarin mengakui kondisi tersebut. Menurut kepala sekolah yang menjabat sebelum sekolah ini tutup mengatakan ditutupnya sekolah ini karena tak memperoleh siswa pada tahun ajaran 2013-2014. Pada tahun ajaran selanjutnya yaitu 2014-2015 sekolah yang berdiri sekitar 2002 ini resmi ditutup.
“Kami tak bisa berbuat apa-apa, jadinya ditutup. Siswa yang pindah itu, ada yang ke SMAN 1 Pekutatan dan ada juga yang ke Mendoyo dan Negara,” jelasnya.
Pada tahun ajaran 2012-2013 lalu, sekolah ini hanya kebagian tujuh siswa. Bahkan, sebagian siswa yang sudah masuk di sekolah ini memilih pindah ke sekolah lainnya.
Sukeni mengatakan dengan kondisi tersebut pihaknya secara otomatis tidak membuka kelas X. Sedangkan siswa yang ada sebelumnya yaitu tujuh siswa yang naik ke kelas XI dan 12 murid yang naik ke kelas XII tidak betah dan akhirnya memilih pindah ke sekolah lainnya.
"Sekarang tamatan SMP di Pekutatan hanya sekitar 250 orang. Kemudian di SMAN 1 Pekutatan serta SMK 5 membutuhkan sampai 360 orang siswa. Itu saja kan masih kurang, jadi mereka juga mengambil dari luar. Akhirnya, kami tidak kebagian siswa,” tandas Sukeni. (*)