Griya Style

Perpaduan Green Wall dan Arsitektur Bali

Tanaman Menjalar di Pintu Berukir Khas Bali

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani

TRIBUN-BALI.COM - Menghijaukan lingkungan sekitar tidak hanya dapat dilakukan dengan menanam tanaman di lahan.

Dinding pun dapat menjadi media yang menyejukkan suasana. Menanam tanaman pada dinding terbukti dapat mengurangi suhu udara di dalam rumah, karena tanaman dapat menyerap panas, selain tentu hijaunya tanaman dapat menyegarkan pandangan. Inilah yang disebut green wall.

Tanaman dinding atau menjalar ini, membuktikan bila tembok rumah bisa menjadi media untuk penghijauan.

Bahkan dapat memperkuat kesan alami bangunan. Hal itu pula yang dilakukan I Gusti Ngurah Gd Budhita SE MM di kediamannya di kawasan Gatot Subroto, Denpasar, Bali.

Selain memperindah tembok, Ngurah juga memperindah pintu utama dengan tanaman jalar tepat di bagian atapnya.

Agar semuanya tetap mempertahankan konsep awal, yakni dibuat sedekat mungkin dengan alam, dan menyiratkan arsitektural tradisi Bali, Ngurah memperhitungkan setiap sisi secara detail.

Misalnya untuk pintu gerbang utama, digunakan yang memiliki ukiran khas Bali.

Meskipun ukirannya terbilang detail, namun pilihan warnanya yang simple, hanya perpaduan dua sampai tiga warna saja.

"Saya ingin yang tetap elegan. Tidak perlu yang terlalu norak, warna macam-macam. Coba lihat perpaduannya ini, enak dipandang mata," ucapnya.

Corak pintu tampak menyatu dengan bagian penyangganya yang berwarna cokelat tanah. Sementara di sisi kanan dan kiri, ditanami pohon jepun yang rindang.

Pada bagian bawah, ditambah pot-pot yang tanamannya tumbuh menggelombang, sehingga tampak lebat dan subur, selaras dengan jalaran tanaman di bagian atasnya.

"Nah, sebagai penjaga, di setiap sisi pintu, dipasang patung. Ya, dicari yang patungya humoris. Kan bagus begitu sebagai penyapa agar lucu dan bahagia rasanya," terangnya.

Saat Tribun Bali melihat bagian dalamnya, pada sisi belakang pintu juga tetap diberi tanaman yang menjalar.

Ternyata Ngurah tidak hanya menerapkan konsep itu untuk pintu masuk utama, tetapi juga ada di bagian belakang rumah yang dekat dengan pintu darurat.

Awalnya, dia merasa akan tampak indah apabila tanaman menjalar dipadukan dengan kolam ikan dan dindingnya menggunakan batu alam andesit.

"Mulanya memang lengkap di sini, suara air dan semuanya pas. Tapi karena di sini kemudian ada banyak anak-anak, saya dan istri memutuskan untuk menutupnya," terang Ngurah. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved