Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Art Culture

Wild Drawing Banyak Angkat Isu-isu Sosial

Wild Drawing (WD), begitu sang seniman asal Nusa Penida itu menyebut dirinya, memutuskan berkarya di 'jalanan'.

Tayang:
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Setelah melakoni berbagai bentuk kesenian, akhirnya Wild Drawing (WD), begitu sang seniman asal Nusa Penida itu menyebut dirinya, memutuskan berkarya di ‘jalanan’.

Seniman yang lama berkarya di Yunani itu sepenuhnya ingin mengarungi jungle yang terus-menerus memacu adrenalinnya, sebebasnya merayakan seni dan keliaran imajinasi.

Saat ini dia sedang ke Bali selama beberapa bulan, dan balik ke Yunani pada Maret nanti.

Walau hanya beberapa saat di tanah kelahirannya, tetapi tangan dan pikiran WD terus bergerak. Sejumlah mural lahir, atas kegelisahannya akan kondisi Bali yang semakin meresahkan.

Di sebuah gubuk yang dikelilingi sawah di kawasan Ubud, WD membuat mural yang menyuarakan tindakan eksploitasi berlebihan.

Dia menggambarkan lembaran uang Rp 50 ribu, seorang bocah perempuan mengenakan pakaian adat Bali, dan kain prada bertuliskan ‘Stop Exploiting Our Land”.

Selama ini, WD banyak mengangkat isu-isu sosial yang membuatnya merasa bisa berkomunikasi dengan publik luas.

“Ada juga yang memang art for art. Tapi yang jelas, semuanya mesti memiliki pesan,” ujarnya kepada Tribun Bali di Kesiman, Denpasar, Bali, Rabu (4/2/2015). 

WD yang sebelumnya sempat berkarya di studio mengaku saat membuat mural di ruang terbuka, dia merasa seperti berada di rimba.

Sang seniman harus siap menghadapi apapun yang terjadi, termasuk ketika tiba-tiba ada polisi datang dan memborgol tangannya.

Kuatnya pacuan adrenalin dan kenikmatannya sungguh berbeda jika berkarya di jalan. Seni jalanan, merupakan bentuk lain untuk membangun interaksi dengan siapapun.

Masing-masing dapat memprotes sebuah karya, bisa juga memberikan apresiasi yang luar biasa. Sang seniman pun dengan sadar merelakan dan siap apabila muralnya akan lenyap atau rusak hanya dalam sehari.

“Jadi satu-satunya dokumentasi yang ada hanyalah foto dan video. Kalau tidak siap, ya jangan jadi street artist,” ujarnya seraya menambahkan seni rupa jalanan dapat dibaca sebagai upaya sang seniman merebut ruang publik. 

Apa yang dilakukan oleh WD juga merupakan bentuk perlawanannya akan kuasa para kaum pemodal.

Iklan-iklan yang dipasang dengan berbagai tawaran dan melenakan konsumen ingin disandingkannya dengan karya seni.

“Mengapa kita tidak membuat sesuatu yang lebih dekat dengan kemanusiaan? Para street artist ingin membuktikan, kami juga hadir, berkarya dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar hobi atau main-main saja,” kata alumnus ISI Denpasar yang bergabung dalam Komunitas Pojok itu. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved