Art and Culture

I Gusti Nengah Nurata Hadirkan Figur Imajinatif dalam Setiap Karyanya

Saya melukiskan sesuatu yang riil, apa yang akan, tengah, maupun telah terjadi

Tribun Bali/Ni Ketut Sudiani
I Gusti Nengah Nurata 

SEJAK dini hingga di usianya hampir 59 tahun, I Gusti Nengah Nurata terus berkelana. Ia menggali imajinasi akan dunia yang entah, tak terbayangkan bagi kebanyakan orang.

Karya-karya drawing seniman asal Tabanan, Bali itu sebagian besar menghadirkan figur imajinatif. Namun, sejatinya berangkat dari realita. Menurutnya, apa yang seakan-akan maya, sesungguhnya jauh lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Apa yang dilihatnya baik dengan kasat mata maupun kepekaan batin, ketajaman intuisi, maupun keliaran pikiran, kemudian disampaikan melalui kiasan rupa. Nurata meminjam berbagai simbol untuk mewakili pesan yang hendak disampaikan.

Ia menciptakan beraneka sosok, dengan tetap berpegang pada konsep dan nilai dasar yang diusungnya. Dalam proses penciptaan, Nurata tidak pernah sekalipun menggunakan model, foto, atau contoh.

Bentuk-bentuk itu muncul setelah adanya pengendapan dan olah gagasan yang matang, ditambah kemahirannya bermain dengan urusan teknis.

“Saya melukiskan sesuatu yang riil, apa yang akan, tengah, maupun telah terjadi. Hanya saja ditampilkan secara imajinatif, menggunakan simbol, dan diungkapkan dengan bahasa kiasan rupa,” ujar Nurata saat ditemui Tribun Bali di kediamannya di Jalan Kenanga, Tabanan, belum lama ini.

Misalnya saja dalam lukisan berjudul Black and White Crystal Mirror of Nation War. Di dalamnya, ada beraneka macam sosok yang seolah tidak terdefinisikan. Namun, publik dapat menerkanya dari simbol-simbol yang ada.

“Bayangkan, perang itu seperti neraka bagi semua kehidupan. Peristiwa itu memang terjadi, bisa dilihat adanya unsur yang mewakili negara-negara di belahan Eropa, Asia, dan Amerika,” jelasnya.

Nurata menggunakan ikon-ikon yang kuat, seperti adanya patung Budha dengan kepala terputus, gambar yang menyerupai tank, figur-figur berwajah mengerikan memegang senjata. "Itu metaphor visual semua,” ujarnya.

Seperti juga karyanya yang lain, Ventura into the Virtual World, sebagai bentuk kritik Nurata akan kondisi kekeringan yang terjadi di mana-mana. Pada lukisan itu hanya tampak lahan coklat yang seperti terkaput awan atau asap, dan burung juga binatang tak berbentuk.

Tidak banyak yang menyadari, apabila diperhatikan, kaki burung yang tidak diketahui jenisnya itu memiliki bentuk yang berbeda. Menurut Nurata, yang satu masih seperti aslinya, tetapi satunya lagi sudah menyatu dalam kekeringan. (sud)

Ikuti kisah selengkapnya di Tribun Bali edisi Minggu, 22 Februari 2015!

Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Agung Yulianto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved