Griya Style

Pelinggih Catur Muka di Bale Bengong

Bale Bengong di Vihara Dharmayana

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani

Perpaduan dua karakter bangunan tampak tersaji di Vihara Dharmayana. Dua unsur ini terlihat makin mengeratkan dua hubungan yang sangat kuat.

TRIBUN-BALI.COM - BANGUNAN bale bengong di Vihara Dharmayana, ternyata dapat digunakan sebagai tempat pemujaan untuk Dewa Catur Muka. Awalnya, bale itu digunakan untuk tempat peristirahatan.

“Mulanya sama seperti bale bengong ini, untuk duduk-duduk saja. Tapi belakangan memang diperlukan tempat untuk pemujaan dewa. Jadi ya, tempat itu digunakan. Sekarang sebagai tempat berstananya Dewa Catur Muka,” tutur Ketua Banjar Dharma Semadi, Kuta, Adi Darmaja Kusuma (49) yang juga penanggungjawab Vihara Dharmayana, Kuta.

Bangunan umum bale berkonsep gazebo itu sesungguhnya lebih mirip dengan arsitektur Bali.

Namun, kemudian ditata agar padu dengan bangunan lainnya. Bagian langit-langitnya dihiasi lampion dan sejumlah spanduk warna-warni dipasang pada pinggiran bangunan.

“Nah, itu juga bagian dari bentuk keyakinan dan kepercayaan masyarakat Tionghoa. Dewa Catur Muka, dewa yang diyakini dapat menolong dan mengabulkan permintaan umatnya,” tambahnya.

Dewa Catur Muka dikelilingi arca-arca dan berbagai persembahan, lengkap dengan dupa merah.

Umat yang ingin sembahyang, menancapkan tiga dupa pada setiap sisi, kemudian mengelilinginya sebanyak empat kali, sebagaimana namanya, catur yang berarti empat.

Bale itu dikelilingi kolam berisi kura-kura. Menurut Adi, tempat beribadah biasanya dikelilingi air, kolam yang dipandang suci. Kura-kura sebagai perlambang pelepasan mahluk hidup.

Selain itu, pada bagunan Baktisala, di antara semua patung atau arca yang melambangkan dewa-dewi kepercayaan masyarakat Tionghoa, terdapat pula dua patung patih Bali.

Dalam sejarah, tercatat kedua patih itu yang turut mengawal Ketua Kongco.

“Saat masa kerajaan Mengwi, kedua patih itu yang terus mengawal Ketua Kongco di sini. Sehingga kemudian dibuatkan patung dan dipuja. Di sini dapat dilihat lagi bagaimana rekatnya antara masyarakat Bali dan Tionghoa,” terangnya.

Di samping itu, pada perayaan Cap Go Meh yang merupakan puncaknya Imlek, masyarakat setempat ngayah megambel.

“Saat itu pas purnama pertama. Teman-teman juga akan ngayah Tari Bali dan tentunya ada tari khas Mandarin,” imbuhnya.

Sementara itu, pada gedung Darmasala yang memiliki pintu melengkung, terdapat arca Budha dan Dewi Kwan Im. Bangunan itu ditujukan sebagai tempat untuk pemujaan Budha.

“Pintunya yang melengkung, ya memang dibuat agar bagus,” katanya. Pada dinding terdalam, dapat dilihat dengan jelas, dilatari oleh gambar yang menyerupai Borobudur. (ni ketut sudiani)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved