Youngstar

Sempat Ingin Mundur, Khalisha Simorangkir Kini Sukses Gesek Violin

Satu kata kunci menurutnya, terus mencoba, berlatih dan berlatih.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN BALI/NI KETUT SUDIANI
Khalisha TN Simorangkir 

TRIBUN-BALI.COM - Tak lama lagi, Khalisha TN Simorangkir mendapat pengakuan dan sertifikasi untuk mengajar musik, setidaknya untuk para pemula yang masih duduk di taman kanak-kanak atau sekolah dasar.

Khalisha yang sudah mulai bermain violin sejak usia empat tahun mengaku dirinya tertarik pada alat musik gesek ini, saat melihat sebuah pertunjukan.

Tanpa berpikir panjang, dirinya langsung saja menyampaikan ke ayahnya. “Saya ingin main itu, apa bisa?”

Sang ayah yang juga seorang musisi, pemain gitar dan vokalis, langsung menyetujui keinginan anaknya.

Bagi Khalisha, pada awalnya memang sangat susah untuk memainkan violin. Apabila dibandingkan dengan alat musik lainnya, ia menekankan, violin-lah yang paling sulit.

Sempat di minggu pertama latihan, Khalisha ingin berhenti mengambil violin. “Ya, saya bilang ke ayah. Aduh, kok susah sekali yah main ini. Khalisha mau selesai saja,” kenangnya.

Namun atas dorongan sang ayah, akhirnya Khalisha hingga kini masih bertahan, bahkan kemampuannya semakin terasah.

Satu kata kunci menurutnya, terus mencoba, berlatih dan berlatih. Seperti yang diamini sang ayah, Khalisha termasuk anak yang sangat berbakat dan memiliki potensi yang tinggi.

Dengan intensitas kursus yang hanya 45 menit dalam sekali pertemuan setiap minggunya, tentu tidaklah mudah untuk menguasai permainan secara baik.

Menyadari hal itu, Khalisha harus disiplin berlatih sendiri di rumah. Ia mesti bangun pukul 05.30 untuk rutin latihan selama 30 sampai 45 menit.

Khalisha yang sempat pentas satu panggung dengan seorang musisi asal Jerman itu, tidak latihan apabila dirinya berpergian ke luar kota.

“Nah, kalau violin itu kan tidak ada kuncinya. Jadi itu juga sulit, harus dirasakan sendiri. sejauh ini yang paling susah itu scale tiga oktafnya. Permainan vibasi sudah mulai dikuasinya secara baik.

Apabila tidak diikuti latihan rutin di rumah, menurutnya akan lambat untuk mengembangkan bakat.

Sementara saat di tempat kursus, ia lebih banyak untuk mengambil materi dan meminta pendapat dan masukan dari sang pelatih. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved