Aturan Mikol Rampas Penghasilan Pedagang Bir di Pantai Bali

Piping menilai tidak etis jika melarang bir beredar di pedagang eceran pinggir pantai. Piping mengatakan, ombak laut dan bir tidak bisa dipisahkan.

Aturan Mikol Rampas Penghasilan Pedagang Bir di Pantai Bali
Tribun Bali
Pecinta bir, Piping (kanan) serta darwin (tengah) dan totok (kiri) di Renon, Jumat (13/3/2015) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sejumlah pecinta bir (beer lover) mengkritisi kebijakan baru Menteri Perdagangan mengenai larangan penjualan minuman beralkohol Golongan A, termasuk bir, di minimarket dan toko atau pengecer kecil.

Larangan yang akan berlaku menyeluruh secara nasional mulai 16 April itu dinilai kurang mengakomodasi kondisi khas daerah, serta merugikan pedagang kecil dan pengecer bir. Masuk dalam Golongan A jika minuman mengandung alkohol di bawah 5 persen.

“Saya kecewa dengan peraturan baru Menteri Perdagangan. Banyak bule datang ke warung saya dan memesan bir. Semestinya di Bali sebagai daerah pariwisata, penjualan bir bisa diatur tersendiri lewat peraturan gubernur (pergub), misalnya. Jika nanti peraturan Menteri Perdagangan itu berlaku mulai 16 April, nasib kami bagaimana?” kata Putu Indrawan, pemilik Warung Tresni, Renon, Denpasar, Jumat (13/3).

Kemarin sejumlah pecinta bir berkumpul di Warung Tresni, dan membicarakan peraturan baru Menteri Perdagangan itu dalam acara diskusi bertajuk ‘Apa Jadinyan Bila Bir Lenyap di Pantai-pantai di Bali’.

Diskusi tersebut antara lain menghadirkan penyanyi kafe Darwin Doris Here Bessie, peselancar (surfer) Piping serta Dandu Mariono (Area Bussiness Manager Bir Bintang untuk Bali).

Menurut Putu Indrawan, larangan penjualan bir di minimarket, toko/warung kecil memiliki dampak berantai (multiplier effect) yang merugikan bisnis eceran kecil. Larangan itu juga dinilai diskriminatif, karena hypermarket atau supermarket besar masih boleh menjual minuman beralkohol Golongan A.

Untuk diketahui, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengeluarkan larangan penjualan minuman beralkohol golongan A dijual di minimarket pada Januari lalu. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol,
Ini berarti, semua minimarket di seantero Nusantara dilarang menjual minuman beralkohol di bawah 5 persen, termasuk bir. Penjualan minuman beralkohol golongan A hanya boleh dilakukan oleh supermarket atau hypermarket.

Permendag tersebut tidak akan diberlakukan diskriminatif. Artinya, daerah wisata seperti Bali juga akan dikenakan pemberlakuan peraturan tersebut.

Dengan keluarnya aturan ini, pebisnis minimarket wajib menarik minuman beralkohol dari gerai minimarket miliknya paling lambat tiga bulan sejak aturan ini terbit. Peraturan tersebut dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan pada 16 Januari lalu, sehingga akan berlaku efektif mulai 16 April nanti.

Putu Indrawan mengatakan bahwa Bali hidup dari pariwisata dan bir menjadi satu hal yang lumrah bagi wisatawan, khususnya kalangan wisatawan asing.

Halaman
12
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved