Sarbagi

Sayatan Silet Daniel Sulap Harga Ikan Cupang Jadi Jutaan

Bius Pakai Air Tembakau, Sirip Cupang Dibuat Mohak

Editor: Rizki Laelani
TRIBUN BALI/AA PUTU SANTIASA PUTRA
SALON CUPANG - Daniel Setioputro tengah menyalon ikan cupang milik langgannya di dalam kosan miliknya di Jalan Gunung Shang Hyang Gang Nusantara I No 2, Badung. 

Hobi memelihara cupang mengantarkan Daniel Setioputro menjadi terkenal di Bali. Dikenal sebagai tukang salong ikan cupang, kini bisa memiliki omzet per minggu hingga Rp 1,5 juta.

TRIBUN-BALI.COM - AQUARIUM mini berisi ikan hias cupang berderet rapi di depan kamar kos Daniel Setioputro di Jalan Gunung Shang Hyang Gang Nusantara I No 2, Badung.

Sedangkan pria berusia 34 tahun si pemilik kamar, terlihat membungkuk di terangi lampu belajar di sudut ruang. Matanya cermat memandangi ikan cupang merah yang sudah siap untuk "dipermak".

Sesekali tangan kirinya membasuh insang ikan agar tetap bisa bernafas. Tangannya terampilnya menyayat sirip bagian bawah ikan menggunakan silet, sesekali dia memekarkan ekor bagian belakang memaki pembersih telinga, Minggu (15/3/2015).

Daniel, penggemar dan penjual cupang hias, menyambi jadi tukang grooming (salon) khusus cupang kontes.

Berprofesi sebagai tukang salon cupang, sudah dilakoninya sejak 2007 secara otodidak.

“Saya nyalonin ikan cupang yang mau kontes. Namun, ada juga klien yang datang untuk merapikan ikannya sehari-hari, ya namanya penggemar pasti ingin ikannya rapi,” kata Daniel yang duduk di depan kamas kosnya.

Selama karirnya membuka salon cupang, pria beranak satu ini, menciptakan metode baru untuk membius ikan sebelum disalon.

Pria yang memiliki tato cicak di kaki sebalah kanan ini, biasa menggunakan air rendaman tembakau.

Sebelum menemukan bius hasil cipatannya, biasanya Daniel menggunakan metode konvensional, yaitu air es untuk membius ikan.

Namun, dikatakan si rambut cepak dan humoris ini, metode tersebut tidak begitu memuaskan.

Banyak ikan mati setelah dirapikan siripnya, hal itu lantaran metode menggunakan air es membutuhkan ketepatan durasi waktu dalam menyalon.

Metode bius menggunakan air rendaman tembakau ditemukannya secara tak sengaja, sekitar 2012. Saat itu, ia membius ikan cupang menggunakan air es, namun cepat tersadar.

Tidak sengaja dia menjatuhkan ikan ke air bekas rendaman tembakau rokoknya. Ternyata ikan terbius dengan waktu yang cukup lama. Akhirnya proses peng-grooming-an dilanjutkan.

Daniel yang tergabung dalam komunitas Bali Betta Lovers pencinta ikan cupang hias Bali, secara gambalang mempraktikan tahapan penyalonan ikan kepada Tribun Bali.

Ikan dimasukkan ke dalam air rendaman tembakau selama 10 detik, kemudian ikan dipindahkan ke baskom air bersih, sampai ikan benar-benar tenang.

Tahap selanjutnya ikan dipindah ke atas papan kecil berukuran seluas telapak tangan, lalu sirip ikan yang tidak sesuai dirapikan menggunakan silet, sesuai standar penilaian kontes ikan cupang hias.

Dalam proses pencukuran insang ikan sesekali harus dibasuh air bersih agar bisa bernafas. Tahap terakhir ikan dipindahkan ke air bersih untuk menyadarkan ikan dari pengaruh obat bius.

Menurut Daniel yang akan menjadi juri kontes ikan hias cupang April nanti, ada standar sirip ikan cupang yang harus dirapikan untuk ikut kontes.

Ekor belakang bukaannya minimal 180 derajat, maksimal membentuk huruf “C”. Sirip atas bagian membentuk mohak dan lebih tinggi dari ekor belakang.

Sirip bawah membentuk trapesium dan sudutnya melancip, bagian ini biasa dikenal dengan knalpot.

Bagian dasi dibawah insang sejajar dan seimbang, dua dasi tersebut tidak boleh menyilang.

“Bagian dasi merupakan bagian paling susah untuk penyalonan. Sebab ada membran yang harus diperhitungkan secara cermat. Membran ini kadang-kadang bisa mendukung atau malah merusak bentuk dasi,” jelas pria asal Semarang.

Jenis ikan cupang yang paling susah untuk salon adalah cupang hias Plakat. Plakat memiliki sirip kecil yang harus diperhatikan secara cermat agar tidak robek atau rusak saat penyalonan.

Tarif yang dikenakan kepada pelanggan sebesar Rp 25 ribu per ekor, jika borongan sebanyak 10 ekor bisa Rp 10 ribu per ekor-nya.

Masa panen biasanya 1 minggu menjelang kontes, hasilnya mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

Dalam keadaan tertentu seperti ikan cupang hias yang mahal dan membutuhkan tingkat ketelitian tinggi dalam proses penyalonan dikenakan Rp 50 ribu. Dirinya mengaku paling kesel jika ada klien yang berhutang.

“Sudah capek-capek nyalon sampai malam, ujung-ujungnya ngebon, di sana biasanya saya tidak mood mengerjakan. Menjelang kontes klien saya antre sampai pukul 03.00 Wita,” Jelasnya Daniel.

Daniel merupakan satu-satunya tukang salon ikan hias cupang di Denpasar bahkan di Bali. Hasil sayatannya sangat istimewa dan berstandar nasional. (aa putu santiasa putra)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved