Megoak-goakan, Permainan Tradisional yang Tetap Digemari Remaja
Jika kepala ular berhasil menangkap ekornya, maka permainan dianggap selesai. Mereka kemudian mengulangi permainan itu berulang
Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Iman Suryanto
Foto diabadikan oleh reporter Wartawan Tribun Bali. Lugas Wicaksono
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Puluhan muda-mudi terlihat berkumpul di tanah lapang depan Pura Dalem Desa Pakraman Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, Minggu (29/3/2015).
Di atas tanah basah, mereka berbaris memanjang membentuk formasi 'ular-ularan'.
Mereka adalah Sekaa Teruna Teruni (STT) Satya Warta Desa Panji.
Sore itu mereka bermain Megoak-goakan.
Permainan tradisional yang seru dan mudah untuk dimainkan.

Seorang pemuda, Nyoman Masajaya mengatakan, setelah membentuk ular-ularan, mereka berlari sembari memegang erat pinggang peserta di depannya agar tidak terputus dan mengitari tanah lapang yang becek.
Sesekali mereka melambaikan tangan dan berteriak menirukan suara raksasa.
Seorang pemain yang menjadi kepala ular berusaha mengejar dan menangkap seorang pemain lain yang menjadi ekor.

"Jika kepala ular berhasil menangkap ekornya, maka permainan dianggap selesai. Mereka kemudian mengulangi permainan itu berulang-ulang sampai puas dengan pemain kepala ular yang berganti," jelasnya.
Tentu tidak mudah menangkapnya.
Pemain-pemain yang berada di barisan sudah tentu berusaha menghindari tangkapan kepala ular.

Tidak jarang para pemain itu terpeleset dan jatuh karena berlari di atas tanah becek yang licin.
Jika sudah demikian, permainan harus diulang karena barisan terputus.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/permainan-tradisional-megowak-gowakan.jpg)