Ingin Belajar Sulap? Datang ke Ice Mall Denpasar Aja
Magic Castle di depan pintu masuk Ice Mall merupakan sekolah sulap pertama yang hadir di Bali dengan menawarkan kelas untuk mempelajari teknik sulap.
Laporan wartawan Tribun Bali, Ayu Dessy Wulansari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sulap tidak hanya sekedar trik dari kecepatan tangan atau ilusi saja, namun juga bagian dari seni yang dapat menghibur dan membuat orang berdecak kagum. Sejak 20 Agustus 2013, berdiri sebuah wadah atau tempat bagi mereka yang ingin belajar sulap.
Magic Castle yang berlokasi di depan pintu masuk Celular City (Ice Mall) merupakan sekolah sulap pertama yang hadir di Bali dengan menawarkan kelas untuk mempelajari teknik sulap.
“Untuk kursus sulapnya dengan biaya Rp 1,5 juta per tiga bulan itu dapat 48 trik dengan 12 kali pertemuan. Sekali pertemuan itu satu jam. Kalau untuk belajar hipnotisnya sendiri Rp 4 juta dan itu satu jam langsung bisa. Untuk belajar indigo atau indera keenam itu harganya Rp 3 juta. Serta ada ramal tarot untuk belajarnya private sudah sama kartunya dengan biaya Rp 500 ribu,” ucap Master Franchise Magic Castle Indonesia Area Bali, Cristian Alexander, di Ice Mall Jalan Teuku Umar No 6 Denpasar, Bali, Senin (11/5/2015).
Menurutnya, hipnotis adalah permainan sugesti sehingga orang bisa berada di bawah alam sadar. Sugesti bisa membuat mindset orang lebih baik. Seperti mengubah orang yang memiliki fobia ketinggian atau lainnya bisa dibantu menghilangkan rasa ketakutan itu dengan hipnosis.
“Hipnosis sangat berguna untuk menyembuhkan yang kecanduan narkoba atau merokok,” ucap Alexander.
Sampai saat ini Magic Castle telah memiliki 294 murid dan ada 329 anggota yang tergabung dalam Magic Castle area Bali. Menurut Alexander tujuan sekolah sulap Magic Castle ini berdiri adalah dapat menumbuhkan rasa percaya diri seseorang sejak dini.
“Pada anak-anak dari yang tadinya tidak punya percaya diri bisa nambah kepercayaan diri mereka. Kedua yang awalnya tidak dikenal orang, dengan magic show dia bisa dikenal orang. Dan bisa menghasilkan nilai tambah serta nilai jual sendiri buat mereka,” ungkapnya.
Murid yang kursus di Castle Magic juga kerap mengisi acara sulap di tempat makan, cruise¸pusat perbelanjaan, dan kafe. Sejak usia 6 tahun hingga orang yang sudah tua dapat mempelajari trik sulap. Tak terbatas umur maupun gender. Antusiasme masyarakat Bali sendiri dalam belajar sulap dinilai bagus karena jumlah orang yang ikut kursus ini melebihi dari kota-kota yang lain.
“Sulap ini kan berbau seni. Di Bali sendiri seni itu sangat dihargai. Untuk media pembelajaran itu pasti menggunakan alat sulap. Tanpa alat, sulap itu akan pincang dan tidak akan bisa jadi pesulap. Seorang pesulap akan lebih mahir lagi dan terbantu dengan peralatan sulapnya,” akunya.
Pengajar sulap di Magic Castle juga langsung diajarkan oleh Alexander yang telah berguru langsung ke Deddy Corbuzier dan dikenal sebagai mentalis populer di Indonesia sekaligus pemiliki Magic Castle.
Selain itu juga saling berbagi ilmu dan pengalaman dengan pesulap-pesulap yang ada di Jakarta. Mengikuti kursus di Magic Castle mendapatkan sertifikat resmi.
“Sulap itu adalah seni. Kalau kita sudah menjiwai seni, seni apapun pasti akan kita cintai. Di Bali seninya sangat kuat. Apalagi kita bikin yang luar biasa dan berbeda, yaitu seni sulap,” ungkapnya.
Perkembangan sulap kini mampu menciptakan suasana baru dan menghilangkan rasa jenuh. Seperti yang diutarakan seorang murid yang ikut kursus sulap dan hipnotis di Magic Castle, Made Catur Harsana.
Pekerjaanya sebagai kontraktor dan konsultan proyek sekaligus seorang seniman membantunya memodifikasi seni yang sudah ada sebelumnya sehingga tidak terkesan monoton.
Baginya belajar sulap mudah untuk diikuti dan dipraktikkan. Ia baru mengikuti kelas belajar sulap sebanyak empat kali.
Hanya membutuhkan waktu yang singkat, ia bisa melakukan beberapa trik sulap. Selain itu, baginya seni sulap adalah entertain yang dapat menghibur banyak orang. Pertunjukan sulap bisa menjadi jenis hiburan baru yang dapat menyelingi hiburan konvensional, seperti tari atau gamelan.
“Sulap tidak terpaku pada usia karena ini adalah keterampilan dan seni. Umur tua pun masih bisa dilakukan, artinya di saat sudah pensiun, mereka bisa melakukan sulap dan mendapatkan penghasilan. Misalkan ada drama gong, dia melakukan sesuatu saat pembukaannya. Sehingga nantinya orang akan mencari drama gong yang ada sulapnya. Seni adalah bekal untuk di masyarakat,” katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sekolah-sulap-magic-castle-indonesia-bali_20150511_224443.jpg)