Pra-rekonstruksi Penusukan di Lapas Kerobokan Peragakan 10 Adegan
Pelaku yang sering membantu dalam ruang medis, ternyata menikam rekannya sendiri. Pelaku masih dalam proses medis penyembuhan narkoba,
Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dengan posisi duduk dan bersandar di brandcard, Andre Nuryanto (32) menceritakan sosok pelaku S alias Jefri (33) yang menusuk dirinya dan Herman Sumanto (45) di Lapas Kerobokan, Badung, Bali.
Menurut Andre, rekannya sesama napi tersebut memiliki gangguan jiwa.
(Baca Juga Berita Terkait: Ini Kronologi Penusukan Sesama Napi Hingga Tewas di Lapas Kerobokan)
"Pelaku yang nusuk itu memang orang yang stres-stresan atau gangguan jiwa. Setahu saya sudah tiga kali dia membuat kericuhan di lapas. Dan kejadian kemarin yang paling parah," terang Andre, saat ditemui Tribun Bali di IRD RSUP Sanglah, Kamis (14/5/2015).
(Baca Juga Berita Terkait: Penusuk Rekan Napi Hingga Tewas di Lapas Kerobokan Itu Gangguan Jiwa)
Kemarin, jajaran Polda Bali bersama Polres Badung menggelar pra-rekontruksi kasus penusukan ini di Lapas Kerobokan.
Menurut Kapolres Badung AKBP Tony Binsar, dalam prarekonstruksi pelaku melakukan 10 kali adegan.
Dengan kepala terus menunduk dimana mukanya tertutup zebo, Jefri tampak lemas saat melakukan pra-rekontruksi.
Sesekali saat berjalan tubuhnya diangkat dua petugas yang mendampingi.
Sementara sejumlah awak media yang mengajukan pertanyaan tidak dijawabnya.
"Kami mengambil adegan dari lapangan awal mula terjadi peledekan, sampai dengan adegan terakhir pelaku melakukan penusukan dan langsung ditahan atau dilerai rekan binaan seblok. Untuk adegan ke 10 adalah kegiatan mengetahui kondisi korban meninggal dunia," jelas Tony Binsar kepada awak media.
Selain itu, dalam prarekonstruksi yang dilakukan oleh petugas Indonesia Automatic Finger Print Identification Sistem (INAFIS) Polda Bali, petugas juga mencari saksi-saksi dan juga barang bukti.
Dalam adegan 10 kali tersebut, saksi-saksi yang dikumpulkan mencapai enam orang.
Saksi-saksi tersebut merupakan warga binaan seblok yang mengetahui perkara dan melakukan proses peleraian saat penusukan terjadi.
Diungkapkan Kapolres, di dalam kamar nomor 1 Blok I merupakan tempat terjadinya penusukan kedua korban.
Saat itu, pelaku hendak masuk ke kamar. Hanya saja pelaku diejek orang, selanjutnya pelaku berjalan ke kamar 1 untuk mengambil pisau yang disimpannya.
Setelah itu pelaku keluar dengan menyembunyikan pisaunya di tangan, dengan tujuan hendak menusuk napi berinisial G yang meledek pelaku dengan sebutan SP (nama penyakit untuk pria).
Selanjutnya, karena korban tidak mengetahui pelaku membawa pisau, mereka spontan mencegah niat pelaku yang sudah tampak emosi dan beringas.
Naas buat Andre dan Herman, mereka yang hendak melerai malah ditusuk pelaku.
"Setelah menusuk korban pertama, pelaku masih berjalan dan menusuk korban kedua yang hendak melerai. Dalam rekonstruksi kita amankan saksi-saksi dan barang bukti pisau serta baju korban maupun pelaku. Kita masih kembangkan penyelidikannya, nanti akan ada rekonstruksi lagi saat proses penyelidikan. Pelaku kemungkinan akan dititipkan di Lapas Kerobokan, soalnya masih dalam proses rehab medik," ujar Tony Binsar.
Usai pra-rekonstruksi, Kepala Lapas Kerobokan Sudjonggo menjelaskan, pelaku merupakan sosok yang aktif.
Ia tidak menyangka pelaku yang sering membantu dalam ruang medis, ternyata menikam rekannya sendiri.
Melihat kondisi tersebut, karena pelaku masih dalam proses medis penyembuhan narkoba, maka pelaku akan dititipkan ke lapas.
"Pelaku ini kategori kecanduan narkobanya sudah parah. Jadi harus dilakukan perawatan medis. Untuk pernyataan yang lain, semuannya sama dengan kapolres. Tapi untuk jarak kamar dan rekonstruksi penusukan jaraknya sekitar 20 meter," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bagian SMF Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr Ida Bagus Putu Alit saat dihubungi lewat telepon menjelaskan, hingga kemarin jenazah Herman masih berada di Instalasi Forensik RSUP Sanglah.
"Hingga hari ini (kemarin, red) belum ada permintaan autopsi dari kepolisian. Mungkin besok (hari ini, red) baru ada permintaan autopsi karena sekarang hari libur," terang dr Alit.
Terkait pemulangan jenazah Herman, Sudjonggo mengatakan akan dipulangkan oleh pihak Lapas Kerobokan ke daerah asalnya di Malang.
Pihak lapas berjanji akan memfasilitasi proses pengembalian jenazah kepada keluarganya.
"Tentunya kami akan memfasilitasi korban dan memberitahu keluarganya. Namun itu tergantung dari pihak keluarga akan dimakamkan di sini (Bali) atau di daerah asalnya," ujar Sudjonggo.
Menurut Sudjonggo semuanya akan dipersiapkan oleh lapas termasuk biaya pemulangan jenazah. Atas adanya kejadian ini, ia memastikan bahwa keluarga yang bersangkutan sudah dihubungi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelaku-s-alias-jefri_20150515_085831.jpg)