Rp 600 Juta untuk Jaga Kera Alas Pala Sangeh Bali
Hutan tersebut seluas 14 hektar, yang relatif luas untuk 600 ekor kera ekor panjang yang menghuni objek wisata itu.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Jumlah populasi kera ekor panjang yang bermukim di Objek Wisata Alas Pala Sangeh, Desa Sangeh, Abiansemal, Badung, Bali, sewaktu-waktu bisa terancam.
Hal tersebut disebabkan di sebelah timur hutan, merupakan jalur lalu lintar menuju Denpasar-Petang yang padat lalu lintas.
Sementara itu, hampir setiap jam ada saja ‘penduduk asli Sangeh' ini yang bermain-main ke jalan raya.
Tak sedikit juga dari mereka yang menyebabkan pengendara harus melakukan rem mendadak akibat ulah kera-kera yang beloncat begitu saja ke jalan.
Permasalahan yang timbul tidak hanya kera ini sering bermain di tengah jalan raya.
Namun, acap kali juga terlihat wisatawan dan warga lokal memberi makanan kepada hewan berstatus dilindungi tersebut tanpa sepengetahun pawang kera.
Sebab pemberian makan tersebut dilakukan di luar kawasan hutan.
Kepala Pengelola Objek Wisata Alas Pala, I Made Mohon tak menampik bahwa sampai saat ini kera ekor panjang masih suka bermain di jalan.
Meskipun hutan tersebut seluas 14 hektar, yang relatif luas untuk 600 ekor kera ekor panjang yang menghuni objek wisata itu.
Kata dia, hal itu dikarenakan kera di Alas Pala terdiri dari tiga kelompok. Yakni kelompok timur, tengah dan barat.
"Nah, yang sulit kami kendalikan adalah kelompok timur. Saya hanya berharap pengendara agar selalu berhati-hati bila melintas di depan Alas Pala," ujar Mohon.
Meski sering bermain di jalan raya, Mohon mengatakan populasi kera di sana tak pernah berkurang. Tapi sebaliknya.
Terkait wisatawan yang memberi makan kera tanpa sepengetahuan pawang, kata Mohon, hal tersebut merupakan tindakan terlarang.
"Itu sangat dilarang. Karena, kita tak pernah tahu apakah pemberian makan tersebut bertujuan baik atau tidak. Kalau pengunjung ingin memberikan makan, harus masuk ke hutan. Sebab kami sudah siapkan makanan untuk kera-kera itu," ucapnya.
Untuk mengantisipasi penculikan dan perbuatan meracuni kera, kata Mohon, saat ini pihaknya tengah membangun candi bentar dan pos pengawasan di sebelah jalan raya.
Di mana sebelumnya, pintu masuk objek wisata ini berada di belakang hutan, yang jauh dari keramaian.
"Saat ini kami tengah membuat pintu masuk dan pos pengawasan yang terletak di pinggir jalan raya. Pengerjaannya sudah berjalan awal bulan ini, dan harus rampung empat bulan lagi. Anggaranya dari Dinas Pariwisata Badung, sebesar Rp 600 juta lebih," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kera-ekor-panjang_20150518_133725.jpg)