Citizen Journalism

Mengajar Silat Bali Kuno

Berawal dari sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja yakni Bakti Sosial di

Mengajar Silat Bali Kuno
Istimewa

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Berawal dari sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja yakni Bakti Sosial di Panti Asuhan Hindu Destawan, Buleleng, saya mulai menyelami sisi kehidupan mereka.

Ketut Sutrisna sang pemilik panti asuhan bertutur banyak kepada para mahasiswa yang sedang melaksanakan bakti sosial. Saya tersentuh dengan jiwa besar Ketut Sutrisna yang begitu peduli dengan masa depan anak-anak di daerahnya yang notabene diidentikkan dengan buruh saat merantau ke Denpasar.

Oleh karena itu, ia ingin anak-anak di pantinya itu di sekolahkan setinggi mungkin. Ketut Sutrisna juga menceritakan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di pantinya, tergantung sukarelawan yang mengisi kegiatan. Untuk pembiayaan sendiri kebanyakan datang dari orang Belanda dan Australia.

“Pembiayaan disini sebagian besar dari orang Belanda dan Australia. Pernah saya mengirim proposal pada seorang pejabat, oknum pejabat tersebut menjawab enggan mengurus hal-hal seperti ini, dan mengatakan lebih bagus menyumbang satu miliaar di pura, disana saya sakit hati sekali,” ungkap Ketut Sutrisna.

Dari sanalah hati saya mulai tergerak untuk ikut menyumbangkan sesuatu, pada saat itu Ketut Sutrisna menyebutkan bahwa ia butuh pelatih silat di pantinya, sebab pelatih yang sebelumnya tidak bisa melatih lagi.

Sangat tepat sekali pertemuan waktu itu, saya adalah seorang pelatih Silat Bali Kuno, yang bernama Paiketan Paguron Suling Dewata (Perguruan Seruling Dewata) yang berpusat di Kabupaten Tabanan.

Saat itu juga saya menawarkan diri menjadi sukarelawan melatih silat untuk anak –anak di Panti Asuhan Destawan setiap satu minggu sekali secara gratis. Saya juga mengajari pengetahuan umum tentang Bahasa Inggris kepada anak – anak panti asuhan disela-sela latihan silat.

Minggu kedua saya melatih disana, perasaan saya sangat senang dan bangga akan sikap dan karakter anak – anak panti tersebut. Ramah, sopan dan disiplin. Mereka juga sangat antusias berlatih kendati lelah seusai mencari rumput untuk makan sapi yang diberikan Ketut sutrisna pada mereka untuk dirawat dan dipelihara, yang kemudian dijual untuk biaya penunjang sekolah mereka sendiri.

Penulis: I Gusti Putu Hendranatha Wijaya, A.Md.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha

Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved