Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Banjar to Banjar

Hebat, Banjar Ini Hidup Mandiri, Warganya Sepakat Buat Banten Sendiri

Mereka melaksanakan karya atau upacara baik itu karya alit, jelih, dan karya agung secara mandiri. Hal ini sebagai bentuk kompensasi pembuatan IMB.

Tayang:
Editor: Uploader bali
Tribun Bali/ AA Putu Santiasa Putra
Banjar Semila Jati, Tampak Beberapa kendaraan melintas di depan banjar. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, AA Putu Santiasa Putra

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ini dia banjar yang menerapkan hidup mandiri.

Krama Banjar Semila Jati, Desa Pemecutan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Bali, yang berjumlah 401 kepala keluarga (KK) jika melaksanakan karya atau upacara baik itu karya alit, jelih, dan karya agung berusaha semaksimal mungkin membuat seluruh sarana dan prasarana upacara dari tangan mereka sendiri.

Varian warga berasal dari berbagai daerah, bersama-sama mencari benang merah dalam meyadnya, tidak membawa dresta (aturan) dari tempat asalnya.

Kepala Dusun, I Wayan Landep, menjelaskan pelaksanaan upacara adat di banjar suatu bentuk yadnya.

Ia dan prajuru banjar sepakat selalu berusaha membuat peralatan upacara dan banten dari tangan sendiri atau tidak membeli.

“Masak penjor saja beli, lalu bagaimana dapat menghidupkan suasana mebanjaran di banjar. Kami warga banjar berusaha keras berkrama di banjar,” ujarnya saat ditemui di showroom motor miliknya, Selasa (26/7/2015).

Untuk menyamakan persepsi dirinya dan beberapa krama banjar sempat mempelajari tata laksana upacara dan membuat banten di Yayasan Dharma Acharya, Lumintang Denpasar.

Maksudnya untuk menyamakan persepsi dari berbagai aturan dari krama banjar yang heterogen tersebut.

“Jadi kami meyadnya di banjar harus melepas aturan yadnya yang ada di rumah masing-masing. Tapi memegang teguh sastra (esensi). Kalau mecogcag (berselisih paham ) di banjar, kerjaan tidak selesai-selesai jadinya,” jelasnya.

Banten yang dibuat di banjar antara lain Banten Mralina Pelinggih, Banten Mendem Dasar, Nektegan Dasia, Ngingsah, Banten Ayaban Resi Gana, Ayaban Odalan dan Ayaban Pengenteg Linggih.

Juga segala jenis keperluan lain seperti penjor, klakat, dekorasi, dan lain sebagainya.

Bahkan keperluan ayam panggang yang dihaturkan untuk banten, krama banjar memanggangnya di banjar.

Bahan-bahan pembuatan banten seperti janur, warga banjar tidak membeli.

Namun dari sumbangan warga yang sehari-hari pedagang janur.

Begitu juga nasi, lauk-pauk dan segala macam keperluan lainnya.

Hal ini, bentuk kompensasi ketika warga membuat surat-surat perizinan seperti Izin mendirikan Bangunan (IMB), tidak dikenakan biaya.

Tapi jika ada upacara pujawali di banjar dan pura yang diamong banjar mereka wajib menyumbang seikhlasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, pada acara Karya Agung September 2013 di pura banjar Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra datang ke banjar dan menyaksikan upacara hingga selesai sekitar 2,5 jam.

“Saya bangga sekali waktu itu, sebab Pak Wali mau berlama melihat upacara hingga selesai. Dan Pak wali mengatakan banjar kami ini banjar yang luar biasa, karena membuat banten sendiri,” ujarnya bersemangat.

Ni Putu Suartini koordinator ibu-ibu krama banjar menjelaskan, dalam pembuatan banten krama banjar mendapat giliran sesuai tempekan.

Misalkan tempek 1 hari pertama dan tempek 2 hari kedua.

Masing-masing tempekan berjumlah 75 orang ibu-ibu.

Setiap hari saat bekerja krama banjar memiliki daftar banten apa yang harus diselesaikan.

Seluruh banten yang dibuat disimpan di bale banjar.

Ia menambahkan sangat bangga bekerja dari nol hingga selesai, bahkan saat puncak acara sejumlah ibu-ibu krama banjar menangis terharu.

Pujawali di Pura Ratu Gede Penyarikan jatuh pada Tumpek Wayang (enam bulan sekali), di Pura Semila Sari pada Purnama Sasih Yesta (setahun sekali) dan di Pura TK pada hari raya Saraswati.

“Bangga sekali kalau sudah selesai acaranya. Apalagi waktu acara Ngenteg Linggih di banjar, kami sampai mengeluarkan air mata haru. Bahkan ada yang saling pelukan, semua jerih payahnya terasa, dan getaran yadnya luar biasa saat itu,” ujar Suartini. (*)

(BACA JUGA: Ketahuan Bakar Sampah di Sini Didenda Rp 300 Ribu)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:

Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali

Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali

Sumber: Tribun Bali
Tags
Denpasar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved