Tiket Naik dari Rp 20.000 Jadi Rp 200.000, Aktivitas ke Menjangan Diboikot

Pelaku wisata kembali memboikot aktivitas penyeberangan dan wisata ke Pulau Menjangan dari Pelabuhan Banyuwedang dan Pelabuhan Lalang.

Tiket Naik dari Rp 20.000 Jadi Rp 200.000, Aktivitas ke Menjangan Diboikot
Tribun Bali/Lugas Wicaksono
Pulau Menjangan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pelaku wisata kembali memboikot aktivitas penyeberangan dan wisata ke Pulau Menjangan dari Pelabuhan Banyuwedang dan Pelabuhan Lalang.

Ini setelah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup melalui Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) memberlakukan ujicoba tiket masuk baru untuk wisatawan mancanegara (wisman) senilai Rp 200 ribu dari sebelumnya Rp 20 ribu.

Renacananya ujicoba tiket masuk baru ini akan dilakukan selama dua bulan.

Kali ini pelaku wisata mengatasnamakan Forum Pelaku Wisata Buleleng (FPWB).

Sebab dampak dari pemberlakuan harga tiket baru yang cukup drastis ini tidak hanya berdampak bagi pelaku wisata Pulau Menjangan saja, tetapi juga pelaku wisata di Buleleng secara keseluruhan.

“Sekarang pelaku wisata ini bermacam, tidak hanya guide atau sopir boat di sini saja, tetapi juga pemiliki dive shop, pengusaha travel sampai hotel. Kalau di sini tidak ada aktivitas juga berpengaruh pada pelaku wisata dari Lovina, Pemuteran sampai sini, semua akan lumpuh, ini yang tidak dipikirkan pemerintah,” ujar Wakil Ketua FPWB, Yoyok Asongko, Selasa (16/6/2015).

Ia bersama pelaku wisata lain menyesalkan kebijakan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 tahun 2014 tentang tiket masuk Taman Nasional. Kebijakan itu menurutnya dibuat tanpa melihat dampak pariwisata di lapangan terlebih dahulu.

Tiket masuk senilai Rp 200 ribu dinilai sangat memberatkan bagi wisman yang akan berkunjung ke Pulau Menjangan. Ia khawatir dengan tingginya harga tiket masuk akan membuat wisatawan enggan untuk berkunjung ke pulau tersebut. Sehingga pendapatan pelaku wisata akan berkurang.

“Bukannya kami menolak tamu untuk berkunjung ke Menjangan, tetapi tamu-tamu tidak mampu untuk membayar tiket segitu mahalnya, belum lagi untuk lain-lainnya. Kalau sekarang tetap diterapkan, tidak ada wisatawan, pariwisata di sini tidak jalan dan akan semakin banyak pengangguran,” katanya.

Aksi boikot ini dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Menurutnya jika tidak ada kebijakan baru dari pemerintah, maka mereka akan memboikot seluruh aktivitas penyeberangan ke Pulau Menjangan, termasuk pemedek yang akan bersembahyang.

Dikatakan, banyak uang yang berputar dalam pariwisata di Buleleng, khusunya di Pulau Menjangan, mengingat antara satu destinasi wisata dengan yang lain saling bersinergi. Dalam sehari saja melakukan aksi boikot, pariwisata di Buleleng bisa merugi sampai Rp 250 juta.

Tidak alasan bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng untuk tidak turut membantu pelaku wisata dalam memperjuangkan pariwisata. Sebab pelaku wisata juga merupakan masyarakat Buleleng dan pendapatan dari pariwisata juga memberikan pemasukan bagi Pemkab Buleleng.

“Pemkab seharusnya lebih tergugah dengan kondisi seperti ini. Karena pelaku wisata juga masyarakat Buleleng yang hidupnya dar pariwisata. Kalau tidak ada gerakan dari pemkab yang nyata tidak akan berlanjut pariwisata di sini,” pungkasnya(*)

Penulis: Lugas Wicaksono
Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved