Pesta Kesenian Bali
Dalai Lama Bilang, Bahagia Itu Sleep Well Eat Well
Kesejahteraan itu dapat diukur, misalnya punya sepeda motor, bisa makan, karir bagus, sekolah anak-anak bagus dan lain sebagainya.
Laporan Wartawan Tribun Bali, AA Putu Santiasa Putra
TRIBUN-BALI.com, DENPASAR - Sarasehan Pesta Kesenian Bali XXXVII bertema Kebudayaan dan Kebahagiaan dengan subtema Penguatan Kebudayaan Menuju Peningkatan Kesejahteraan dan Kebahagiaan digelar di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, Bali, Sabtu (4/7/2015).
Dalam sarasehan itu dibahas tentang fungsi kebudayaan dalam masyarakat di antaranya menciptakan kesejahteraan, kebahagiaan, jagaditha dengan bertumpu pada sepuluh indikator indeks kebahagiaan yaitu kondisi keamanan, keharmonisan keluarga, keadaan lingkungan, hubungan sosial, kesehatan, pekerjaan, ketersediaan waktu luang, kondisi rumah dan aset, pendapatan rumah tangga dan pendidikan.
Beberapa narasumber yang hadir dalam diskusi dibagi menjadi dua panel. Panel pertama ialah Prof Dr I Wayan Dibia MA, I Wayan Geriya, dan Prof Dr I Nyoman Suarka MHum, dimoderatori oleh Prof Dr I Nyoman Dharma Putra MLit.
Panel kedua disajikan oleh Prof Dr Ni Luh Sutijati Beratha MA, Kepala Dinass Perindag Provinsi Bali dan seniman wanita Bali Cok Sawitri, dimoderatori oleh Dr Dra Ida Ayu Tary Puspa SAg MPar.
Awalnya sarasehan ini dilaksanakan pada Rabu (1/7) kemudian diundur menjadi Sabtu (4/7).
Makalah keynote sepach yang disajikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr Anies Rasyid Baswedan Phd, dengan moderator Rektor ISI Denpasar Dr I Gede Arya Sugiartha SSKar MHum batal terlaksana dan digantikan oleh I Wayan Koster Anggota DPR RI Komisi X yang membidangi Kebudayaan.
Dalam sambutan sekaligus pembukaan sarasehan Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan, kesejahteraan itu dapat diukur, misalnya punya sepeda motor, bisa makan, karir bagus, sekolah anak-anak bagus dan lain sebagainya, sementara kebahagiaan adalah hal yang subjektif dan belum dapat diukur.
Ia mengharapkan kalangan akademisi dapat mencari solusi dan mendiskusikan tingkat kesejahteraan para seniman Bali yang tidak hanya melestarikan budaya itu sendiri, tapi juga individu dan pelaku seni tersebut.
"Dalai Lama bilang bahagia itu sleep well dan eat well, tidur yang nyenyak dan makan yang enak. Itu sudah bahagia, tergantung budayanya," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sarasehan-budaya-dan-kebahagiaan-di-pkb_20150704_135017.jpg)