Pesta Kesenian Bali
Seni Tabuh Klasik Denpasar Undang Decak Kagum Penonton
Diawali dengan Tabuh Telu Gegancangan dari Sekaa Gong Werdi Cwaram Padangsambian, Denpasar Barat membuat rasa ingin tahu para penonton.
TRIBUN-BALI.com, DENPASAR – Penampilan duta Kota Denpasar di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke- 37 dengan agenda parade kesenian tabuh klasik ciri khas Kota Denpasar, Rabu (8/7) di Kalangan Angsoka Taman Budaya Art Center menampilkan Sekaa Gong Werdhi Cwaram Padangsambian.
Mereka menampilkan empat persembahan kesenian yakni Tabuh Telu Gegancangan, Tari Jauk Longgor, Kebyar Ding dan Tari Topeng Kenyung Manis.
Diawali dengan Tabuh Telu Gegancangan dari Sekaa Gong Werdi Cwaram Padangsambian, Denpasar Barat membuat rasa ingin tahu para penonton yang mulai masuk memadati tempat duduk di Kalangan Anggsoka.
Tabuh Telu Gegancangan “Beratayudha” ini menarik karena tempo dan irama yang cepat, tidak seperti bentuk pepanggulan ataupun lelambatan pada umumnya sehingga terdengar suatu bentuk yang lebih kompleks.
Setelah penampilan Tabuh, para penonton dibuat tertajuk kagum dengan Tarian Jauk Longgor yang biasanya juga di sebut dengan jauk manis.
Kekaguman yang membuat para penonton terdiam ketika si penari yang menarikan Tari Jauk dengan penuh makna saat memainkan tarian yang merupakan interprestasi dari raja raksasa yang mengungkapkan sifat angkuh, garang, dengan gerak dinamis yang bisa disebut “kenyang lempung” dan kekhasan gerak jari tangan yang disebut “gegirahan” menjadi cirri khas dari tarian jauk.
Suasana pun semakin semarak ketika penampilan ketiga yakni Kebyar Ding 1925 yang diciptakan Seniman I Made Regog (1900-1982) dilantunkan.
Dengan berbagai figurasi melodi/ritmik yang cepat dimainkan bersama-sama dengan teknik ngucek (gosok) sebagai transisi tematik yang sangat penting pada inovasi Kebyar Ding.
Ngucek menjadi karakteristik mengidentifikasi kebyar dengan melibatkan irama yang berbeda dengan jalinan triplets yang cepat dengan fase irama yang putus-putus.
Penampilan terakhir dipentaskan dengan penampilan Tari Topeng Kenyung Manis yang mengundang tawa para penonton, dimana saat dari balik kain “langse” yang menutupi candi bentar panggung, sang penari keluar dengan tingkah laku yang kocak.
Tidak ingin menyia-siakan momen ini, para penonton pun langsung mengabadikan tarian topeng ini dengan mengunakan kamera ponsel mereka masing-masing.
Tari Topeng Kenyung Manis ini mengisahkan seorang pedagang kelapa yang selalu menebar senyum manis kepada pembeli maupun orang lain.
Gerak-gerik, tingkah laku, maupun sifat pemalunya inilah yang diimplemetasikan ke dalam kekhasan pertujukan topeng oleh almarhum I Nyoman Pugra dari Banjar Tegalkuwalon Sumerta Denpasar yang diciptakan pada 1950-an. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tari-jauk-longgor_20150708_201215.jpg)