Citizen Journalism

Tukang Parkir Mirip Penjual Karcis Saja

Penulis: Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi, Mahasiswa Sastra Prancis Univeristas Gadjah Mada Yogyakarta

Tukang Parkir Mirip Penjual Karcis Saja
istimewa
Tukang parkir di Yogyakarta memberikan penutup, pelidung panas. 

TRIBUN-BALI.COM - Bagi sebuah negara yang kebanyakan penduduknya lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum, pekerjaan tukang parkir cukuplah menjanjikan. Setiap hari paling sedikit 10-20 motor terparkir di suatu area. Bahkan bisa lebih.

Tapi kebijakan retribusi parkir ternyata tidak merata di seluruh penjuru negeri, khususnya dalam hal pelayanan yang didapat konsumen yang tak lain adalah kita yang mengendarai kendaraan bermotor dan memarkirkannya di wilayah yang mereka jaga.

"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya," pepatah ini sepertinya tepat untuk menggambarkan kebijakan parkir di dua kota, yakni Denpasar dan Jogjkarta. Sebagai warga yang lama menghabiskan waktu di Denpasar dan kini telah merantau kurang lebih 4 tahun di Jogjakarta, saya menemukan beberapa perbedaan mencolok antara tukang parkir di kedua tempat ini.

Di Bali, Denpasar khususnya, tukang parkir berseragam biru biasanya hanya bertugas "menjaga" kendaraan yang kita parkir, memberi karcis, menagih, uang, lalu selesai. Mirip penjual karcis parkir. Kadang-kadang kalau ada helm yang hilang pun mereka tak ambil pusing. Salah sendiri, siapa suruh helmnya tidak diamankan. Kenyataan-kenyataan seperti itu tidak saya temukan di Jogjakarta.

Ingin menjadi penulis di rubrik citizen journalism Tribun Bali? Klik Link Ini

Uang seribu rupiah (atau dua ribu di beberapa tempat) yang kita berikan pada tukang parkir adalah bayaran atas jasa mereka yang telah menjaga motor kita (bahkan di Jogjakarta si tukang parkir selalu meminta agar motor tidak dikunci stang, sehingga mereka mudah merapikannya jika ada kendaraan yang keluar-masuk), menjaga helm yang bahkan hanya ditanggalkan di spion dan tidak dikunci di dalam jok motor, serta membantu kita menyeberang jalan, terutama jika arah tujuan kita dari tempat parkir berlawanan arah. Baik sekali, ya?

Kadang-kadang mereka juga menyediakan terpal, atau kardus yang telah dibentangkan untuk menutupi jok motor kita ketika hari tengah terik. Jadi sekembalinya kita ke motor, kita tak perlu menggosok-gosok bokong yang kepanasan karena menempel dengan jok yang terbakar cahaya matahari.

Tapi tentu saja di dunia ini tidak ada yang sempurna. Tukang parkir di Jogjakarta memang budiman, terutama untuk urusan keamanan. Tapi kemunculan mereka amatlah tidak terduga. Jangan kaget jika di sebuah minimarket franchise yang jelas-jelas ada keterangan parkir gratis kita akan tetap ditagih uang parkir oleh seorang tukang parkir yang entah datang dari mana.

Di Jogjakarta ada istilah, jika ingin jadi tukang parkir kita tinggal pakai rompi oranye lalu nongkrong di depan tempat makan atau tempat fotokopi. Bahkan di tempat makan yang lokasinya di dalam gang-gang kecil pun sering kita temui mas-mas berompi oranye.

Tentu saja, mereka tidak berbekal karcis parkir. Apakah mereka tukang parkir resmi atau tidak? Saya pun tidak berani menduga-duga. Kadang-kadang saya kesal juga. Kalau mau berpikir positif, seribu rupiah yang kita bayarkan tidak sebanding dengan keamanan dan jasa yang mereka berikan.

Penulis: Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi
Mahasiswa Sastra Prancis, Univeristas Gadjah Mada Yogyakarta

Ingin menjadi penulis di rubrik citizen journalism Tribun Bali? Klik Link Ini

Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved