Citizen Journalism
Usai Sembahyang Kuningan, Umat Hindu di Jakarta Nikmati Siobak
Penulis: Komang Wahyu Wedastra, Jakarta
TRIBUN-BALI.COM - Hari Raya Kuningan diperingati setiap 210 hari sekali dalam sistem pengkalenderan Bali atau tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.
Di hari Raya Kuningan yang suci ini diceritakan Ida Sang Hyang Widhi turun ke dunia untuk memberikan berkah kesejahteraan buat seluruh umat di dunia.
Umat Hindu meyakini pelaksanaan upacara pada hari raya Kuningan sebaiknya dilakukan sebelum tengah hari, sebelum waktu para Dewa, Bhatara, dan Pitara kembali ke stananya.
Pelaksanaan persembahyangan hari raya Kuningan pada hari Sabtu tanggal 25 Juli 2015 ini tak hanya dilakukan umat Hindu di Bali.
Umat di Jakarta juga tak ketinggalan melakukan persembahyangan untuk memohon keselamatan dan kerahayuan. Persembahyanan di Jakarta salah satunya dilaksanakan di Pura Aditya Jaya (PAJ) Rawamangun.

Umat melukat sebelum masuk ke jeroan pura
PAJ Rawamangun merupakan pura terbesar di wilayah Jakarta Timur yang selalu ramai setiap perayaan hari raya umat Hindu maupun saat akhir pekan.
Umat Hindu yang hadir di PAJ tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta Timur, tetapi juga dari seluruh wilayah di Jabodetabek.
Persembahyangan Kuningan dimulai pukul 08.30 WIB yang dipimpin oleh Ida Pedanda Istri Mayun. Persembahyangan dilaksanakan dalam beberapa gelombang/tahapan dikarenakan banyaknya umat yang hadir di PAJ.

Ida peranda memimpin persembahyangan
"Persembahyangan hari raya Kuningan kali ini masih tetap ramai oleh umat Hindu dari Jakarta dan sekitarnya," ujar Putu Jasprayana salah satu pengurus tempek Rawamangun yang telah merayakan Kuningan selama 10 tahun di Jakarta.
Walaupun banyak umat yang bersembahyang, namun pelaksanaan persembahyangan tetap berlangsung dengan tertib khusuk.
Sebelum memasuki pura, umat yang berpakaian adat Bali melakukan pengelukatan (pembersihan diri) dengan tirta (air suci) yang sudah disediakan di jaba tengah. Umat juga disediakan dupa untuk persembahyangan.
"Umat Hindu di Jakarta telah hadir di pura ini sejak pagi hari untuk bersembahyang. Persembahyangan berlangsung sampai empat gelombang dan berakhir sebelum jam 12 siang," ujar Jasprayana.

Jro Mangku nunasan tirta kepada umat
Setelah selesai melakukan persembahyangan bersama dan nunas tirta amerta (dibagikan air suci), para umat menyempatkan diri untuk menikmati makanan khas Bali yang tersedia di Warung Aditya Boga PAJ seperti lawar, babi guling, sate, siobak, serombotan, bahkan es daluman.

Suasana di warung aditya boga
Hal ini cukup melegakan umat yang tidak bisa merayakan dan merasakan hari raya Kuningan di Bali.
"Meski jauh dari Bali, suasana Bali di sini tetap terasa," kata Jasprayana, yang hadir di pura bersama istri dan anak-anaknya. (*)
Penulis: Komang Wahyu Wedastra
Jakarta
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kuningan-jkt-3_20150725_182809.jpg)