Citizen Journalism

SIM D, SIM Bagi Penyandang Disabilitas yang Belum Diketahui Banyak Orang

Penulis: Dicky Hartono, Mahasiswa Manajemen FEB Universitas Udayana

SIM D, SIM Bagi Penyandang Disabilitas yang Belum Diketahui Banyak Orang
istimewa

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saya bersama teman sepakat akan mencoba membuat SIM D untuk teman saya yang tunarungu. Saya kemudian mencari tahu informasi ini lebih lanjut kepada teman-teman yang kebetulan bekerja di salah satu yayasan yang kantornya satu area dengan kantor Puspadi.

Dia yang membantu mencari informasi lebih lengkap terkait proses pembuatan SIM D. Prosesnya ternyata sederhana, pertama meminta rekomendasi kepada Puspadi untuk pembuatan SIM D, rekomendasi ini berguna sebagai pengantar untuk membuat surat keterangan sehat di RS Bhakti Rahayu.

Proses pembuatan surat keterangan sehat ini memakan biaya Rp 175.000, yang katanya akan mendapatkan pemeriksaan yang “lengkap”. Saya kurang tau sebenarnya pemeriksaan yang dimaksud seperti apa karena saat saya mengantar teman saya untuk mengurus surat keterangan sehat, teman saya hanya diperiksa tensi dan ditanya-tanya begitu saja.

Setelah mendapat surat keterangan sehat dan membayar, berikutnya ke Polresta Denpasar untuk membuat SIM D dengan membawa surat keterangan sehat tersebut. Biaya pembuatan SIM D ini cuma Rp 50.000 saja. Selesai sudah prosesnya, menurut saya cukup sederhana sebenarnya dan tidak jauh beda dengan proses pembuatan SIM pada umumnya.

Apa yang terjadi di lapangan sebenarnya? Ini yang menarik buat saya dan membuat saya menyimpulkan sementara SIM D ini untuk siapa sebenarnya. Saat mengajukan rekomendasi di Puspadi saya kurang tahu seperti apa karena saya dibantu oleh teman saya yang bekerja satu area kantor di sana.

Mengurus surat keterangan sehat di Bhakti Rahayu sebenarnya saya tidak dipersulit, saya ke loket pendaftaran bilang mau membuat surat keterangan sehat untuk membuat SIM D dengan memberikan surat rekomendasi dari Puspadi, lalu tinggal menunggu saja untuk dapat giliran masuk ke ruangan dokter.

Hal menarik bagi saya adalah saya melihat para staf disana sepertinya masih bingung atau kurang paham prosedur dari pembuatan surat keterangan sehat untuk membuat SIM D ini. Hal tersebut juga saya lihat pada perawat dan dokternya.

Sampai di Polresta Denpasar juga seperti itu, sepertinya masih ada kebingungan diantara para staf di lapangan yang mengurus pembuatan SIM ini atau prosedur pembuatan SIM ini hanya masih dipahami oleh yang menandatangani MoU saja dan belum sampai kepada jajaran di bawahnya. 

Secara umum juga memang masih banyak yang belum tahu tentang SIM D. Mungkin karena masih baru, belum banyak pengalaman dan sosialisasi yang belum maksimal penyebabnya tetapi adanya SIM D ini tetap hal yang baik menurut saya.(*)

Penulis: Dicky Hartono
Mahasiswa Manajemen FEB Universitas Udayana

Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved