Bali Ranking Satu Penyelundupan Tukik di Indonesia
Bahkan, belum lama ini terungkap ada 2.000 tukik yang hendak diekspor ke Tiongkok.
Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Bali menduduki ranking satu di Indonesia dalam hal kasus penyelundupan dan perdagangan penyu.
Berdasar catatan Konservasi Keanekaragaman Hayati.
Tahun 2014 lalu terungkap ada 200 kasus perdagagangan penyu di Bali.
"Berdasar data kami, pada 2015 sudah lebih 50 kasus perdagangan penyu yang berhasil digagalkan," jelas Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Bambang Dahonoaji.

Ratusan wisatawan domestik dan mancanegara ikut melepas penyu di Pantai Kuta, Mangupura, Kamis (30/7/2015). (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Bahkan, belum lama ini terungkap ada 2.000 tukik yang hendak diekspor ke Tiongkok.
“Tukik-tukik tersebut disimpan dalam box kemudian hendak diterbangkan ke Tiongkok melalui Jakarta," jelas Bambang kepada Tribun Bali.
Penyidik Pegawai Sipil, Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Bali Sumarsono menjelaskan, dalam setahun setidaknya terdapat 50 kasus penyelundupan dan jual beli daging hewan yang dilindungi tersebut.
Tahun 2015 ini, BKSDA Provinsi Bali, Kepolisian dan Kasda sudah menangani enam kasus.
Tren kasus sejak 2010 sebenarnya sudah mulai menurun.
Sebab, sebelum 2010, setiap bulan petugas selalu menangkap transaksi ilegal penyu hijau di Bali.

Tukik (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Bahkan, pada 5 Juni lalu, BKSDA Bali menangani kasus jual beli penyu hijau yang sudah dalam bentuk makanan, disate dan diawetkan di dalam freezer.
Menurut Sumarsono penikmat daging penyu tersebut tidak berasal dari Bali.
Kalaupun ada jumlahnya sangat kecil.
Menurutnya, dalam setahun, menurut catatannya, warga Bali hanya menggunakan sekitar 50 penyu yang sudah dinyatakan layak untuk digunakan.
Bahkan, jika dimanfaatkan untuk kegiatan upacara, warga harus mencari izin terlebih dahulu ke PHDI Bali.
"Nah untuk mengantisipasi berkurangnya habitat penyu, kami sudah melakukan perawatan penyu sejak dari telur. Kami bekerjasama dengan warga, pengusaha hotel dan pelestari penyu. Telur-telur penyu bisa diselamatkan dan ditetaskan. Sampai akhirnya dilepaskan," jelasnya kepada wartawan.
Kemarin (30/7/2015), sejumlah penyu yang berhasil diamankan dari upaya penyelundupan pertengahan Juni lali, akhirnya dilepas di Pantai Kuta, Badung.
Acara pelepasan itu dipimpin oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Tachrir Fathoni.
Acara itu juga diikuti oleh sejumlah wisatawan domestik dan internasional.
Di sela-sela menunggu kedatangan pejabat Dirjen dalam acara tersebut, sejumlah anak-anak bule sudah turun membantu acara.
Mereka menyiram penyu hijau dan penyu lekang dengan air.
Hal itu dilakukan agar penyu kuat bertahan hidup di darat.
"Sorry, this is for you," cetus seorang anak bule sembari menyiramkan air menggunakan gayung.
Seperti yang dijelaskan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali, sekitar 400 tukik hijau dari Pantai Saba, dan Kuta serta 100 tukik dari BKSDA Bali juga ikut dilepaskan dalam acara kemarin.
Sementara itu, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Tachrir Fathoni juga mengapresiasi kerjasama dan kepedulian masyarakat tentang arti penting penyu hijau.
Jika penyu hijau yang baru bisa bereproduksi pada umur 10 tahun ini punah, maka kekayaan ekosistem bawah laut juga akan terancam punah.
"Kita harap penyu tidak akan punah, dengan keperdulian masyarakat tentang pelestarian alam. Selain itu pengetahuan akan penyu bertelur, penetasan, sampai pelepasan itu jadi pengetahuan tersendiri buat wisatawan. Untuk proses upacara religi terhadap penyu sudah ada syarat dan ketentuannya, dan pastinya tidak akan mengurangi populasi penyu secara besar-besaran," jelasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelepasan-tukik-di-kuta_20150731_104339.jpg)