Liputan Khusus

Tongkat Soekarno Berkepala Monyet, Tak Mau Kompromi dengan Penjajah

Ketika berada di rumah tersebut kita akan melihat bangunan sederhana yang usianya hampir satu abad.

Tongkat Soekarno Berkepala Monyet, Tak Mau Kompromi dengan Penjajah
Pos Kupang
Tongkat berkepala monyet milik Bung Karno tersimpan di rumah pengasingan di Ende, Plores 

TRIBUN-BALI.COM, ENDE - Ende, sebuah kota kecil di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memainkan peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dari kota kecil inilah, sang Bapak Bangsa Indonesia Ir Soekarno mengobarkan semangat kemerdekaan Indonesia yang kini telah berusia 70 tahun.

(Baca Juga Berita Terkait: Membasuh Muka di Sumur Tua Ini Bikin Awet Muda dan Cepat Dapat Jodoh)

Cerita bermula ketika 81 tahun lalu, atau tepatnya pada tahun 1934, Pemerintah Kolonial Belanda mengasingkan Soekarno ke Ende.

Empat tahun lamanya Bung Karno berada di Ende, sebelum kemudian diasingkan lagi ke Bengkulu di Pulau Sumatera.

Selama di Ende, Soekarno tinggal di salah satu rumah penduduk di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende.

Rumah dimaksud adalah milik Haji Abdullah Ambuwaru.

Keluarga inilah yang pertama menerima kehadiran Bung Karno dan keluarganya saat tiba di Ende pada 14 Januari 1934.

Di rumah ini Soekarno tinggal bersama istrinya Inggit Ganarsih, ibu mertuanya Amsi, serta anak angkatnya Ratna Juami.

Ketika Tribun Bali berkunjung awal pekan lalu, rumah ini memberi kesan mendalam akan peran penting yang dimainkannya saat melindungi Bung Karno dan keluarga 81 tahun lalu.

Halaman
1234
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved